JIKALAU perang berlangsung selama 32 tahun, maka waktu paling cepat untuk memperbaiki moral anak negeri ialah sekira 20 tahun setelah perdamaian. Itupun kalau diperbaiki.

Jikalau tidak diperbaiki dalam rentang waktu itu, maka 20 tahun setelah perdamaian ini akan memunculkan generasi yang terputus dengan zaman, yakni, generasi itu terputus ke generasi di belakangnya, dan mereka terputus tidak memiliki arah ke depan.

Bagaimana dengan sisa generasi lama, yang pernah hidup di dalam masa perang?

Generasi lama itu, hampir semuanya menjadi paranoid. Yakni, sebagian mental mereka masih membawa-bawa khayalan keadaan saat perang –yang didominasi oportunistik dan yang penting diri selamat–, mereka masih berpikir antara kawan dan lawan, antara percaya dan tidak pada orang lain, dan mereka itu tidak akan sembuh sampai mati. Kecuali, beberapa orang yang bersedia berpikir.

Apakah kehancuran moral itu hanya mendera generasi yang terlibat langsung, yakni yang menjadi pelaku atau korban dalam perang?

Tidak. Tapi, kehancuran moral itu telah menrasuki seluruh tingkatan masyaraklat, baik yang tersentuh dengan perang ataupun tidak, baik itu petani di gunung ataupun akademisi di perguruan tinggi.

Masyarakat umum di perkampungan, mereka bersentuhan langsung, baik sebagai korban ataupun pelaku. Sementara orang kota, mereka diracuni oleh informasi di media tentang itu, baik itu informasi yang telah disaring ataupun tidak. Itu mengakibatkan, kehancuran moral telah merata dalam rentang waktu.

Perang, kalah jadi arang, menang jadi abu.

Perang telah usai dan tidak akan kembali. Tuntunkanlah diri sendiri dan tuntunkanlah siapapun orang-orang di sekeliling kita, berpikirlah sebagaimana orang-orang di negeri yang aman tenteram.

Sikap paranoid orang kita terlihat jelas pada masa jelang pemilu, masa pemilu, juga setelahnya. Masih ada saling curiga dan saling caci maki, baik di dunia nyata atau maya. Dan, itu kadang melibatkan orang-orang yang secara nyata disebut orang berpendidikan.

Apakah ada cara yang lebih baik untuk meperbaiki generasi di rentang waktu itu, yakni, melakukan sesuatu bukan sekedar menunggu waktu melewatinya?

Ya, kita harus menuntun diri kita sendiri kepada masa kini dan masa hadapan, bahwasanya hidup dalam kedamaian adalah fakta, hidup dalam persaudaraan adalah fakta, kemajuan adalah fakta. Keberhasilan adalah fakta.

Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan.