Pada zaman old, era 90an buku harian menjadi trend tersendiri. Dalam banyak majalah remaja, ala Lupus, Catatn si Boy  atau novel selalu ada kisah mengenai buku harian. Tokoh terkenal dunia juga melakukan hal yang sama, memilki jurnal harian atau buku diary. 

Saat itu penulis bersekolah di pesantren modern, yang tentu akrab dengan buku Agenda, buku harian dan notes untuk hafalan dan belajar. Apalagi, guru penulis umumnya dari pesantren modern di Jawa, Gontor, otomatis semakin mewarnai pola interaksi dengan buku harian ini. Minimal sering kita melihat mereka membawa buku harian, atau semacam buku Agenda tebal dalam pertemuan tertentu, bahkan abang kelas juga demikian. 

Seingat penulis, buku harian tadi selalu berganti setiap tahun. Isinya juga bervariasi sejak kelas satu hingga kelas enam (aliyah), juga model dan motif buku hariannya. Sepertinya dari menulis buku harian inilah kemampuan menulis terlatih selain lewat  ekskul mading dan lomba lomba yang relevan di lingkungan pesantren.

Dalam mengisi buku harian tersebut, terkadang tidak runut perhari, atau saat momen penting dan saat tekanan perasaan tertentu saja. Materinya juga beragam, dari sekadar kegiatan harian, respon terhadap kondisi lingkungan atau perasaan dan kutipan kutipan nasihat dari guru dan buku.

Setidaknya dengan media buku harian, seorang bisa melatih dirinya untuk belajar mengomunikasikan pikiran, gagasan dan perasaannya secara bertahap, runut dan rinci serta bebas. Ia bisa memilih tema, kecenderungan dan konten sesuai selera.

Sungguh rugi, bila di zaman yang serba online seperti sekarang, tidak menjadikan kultur literasi (baca-tulis) menjadi optimal, lewat bloging dan aplikasi lainnya. Setidaknya bisa melatih diri kita untuk kembali bernalar secara baik, berisi dan bertahap. Hal ini diperlukan untuk melestarikan jejak kemanusiaan kita berdasarkan pada akal murni, bukan pada kecerdasan buatan semata. Silahkan, mulai dari buku harian versi zaman now![]

Taufik Sentana
Peminat literasi pendidikan
Bergiat di Forum Guru Menulis Aceh Barat.