ZIKIR maulid bergema dari pengeras suara Masjid Brunei Darussalam, Gampoeng Deah Mamplam, Kecamatan Leupung, Aceh Besar. Masyarakat gampoeng itu memperingati maulid Nabi Muhammad SAW, Minggu, 17 Januari 2016.
Masyarakat Leupung menyajikan nasi dan menu khas kenduri maulid. Meski kuah beulangong tak terdapat di daerah ini, namun warga setempat menyajian bu minyeuk (nasi berminyak).
Bu minyeuk merupakan nasi dimasak dengan rempah-rempah alami khas Aceh seperti jeura maneh, bungong lawang, lada hitam, dan sebagainya.
“Cara memasaknya; mendidihkan air terlebih dahulu yang dicampuri dengan daun pandan dan garam secukupnya. Nanti beras yang sudah dicuci dicampuri dengan bumbu yang telah disediakan,” kata Rawiah, 42 tahun, salah satu masyarakat Deah Mamplam, Leupung kepada portalsatu.com, Minggu pagi tadi.
Rawiah melanjutkan, beras sudah dicuci tersebut ditambahkan minyak kelapa (Aceh: minyeuk pliek u atau minyeuk cimplah) yang dicampuri minyeuk leutek (minyak terbuat dari santan), jeura maneh, bungoeng lawang dan lada hitam. “Juga bawang merah, bawang putih dan jahe yang diiris halus-halus,” katanya.
Lebih lanjut, kata Rawiah, air yang mendidih dituangkan dalam beras sudah tercampur bumbu, dan dimasak hingga menjadi nasi. Biasanya jika dandang nasi sudah mengeluarkan asap pertanda sudah masak. Aroma bu minyeuk pun begitu terasa.
“Kalau orang zaman dulu memasak bu minyeuk dalam periuk besi. Tetapi sekarang sudah kekinian, orang mencari yang praktis dan cepat. Cara masaknya pun terkadang tidak dipisahkan lagi, sudah dicampurkan air dan beras sekaligus biar cepat. Tapi kalau dulu memang seperti yang saya bilang tadi,” kata Rawiah.
Ketika dihidangkan, bu minyeuk tak disajikan dengan kuah, melainkan lauk kering dan basah seperti tumisan berupa asam tiram, eungkot keumamah (ikan kayu), asam kerang, rendang dan sambal goreng kacang tojin.
“Tak lengkap juga jika tidak ada gurita asin, dan telor bebek yang digoreng mata sapi. Dipakai telor bebek karena telor merahnya lebih besar dibandingkan telor ayam dan terkesan indah, mewah dan lezat,” ujar Rawiah.
Menurutnya, tradisi turun temurun tersebut memiliki substansi dan makna tersendiri bagi masyarakat Leupung. Nasi dan menu khas menjadi pembeda antara kenduri maulid dengan kenduri lainnya.
Hal tersebut dilakukan warga Leupung hingga sekarang, meskipun ada sedikit pola telah diubah dan dikombinasikan dengan kondisi kekinian. Misalnya, cara memasak bu minyeuk.
Sementara itu, hidangan dibawa ke meunasah atau masjid, bu minyeuk dibungkus dengan daun pisang muda sudah dilayukan dengan api, disebut bu kulah, dan lauknya dimasukkan dalam glong.
Glong merupakan salah satu wadah berbentuk keranjang bulat terbuat dari rotan. Satu glong terdiri dari 45 piring kecil. Glong ditutup sange khusus untuk kenduri maulid. Kenduri lain biasanya dihidangkan dalam talam.
Menurut Rawiah, hal paling sakral, tidak boleh lupa membaca selawat ketika menyiapkan kenduri maulid.
“Intinya, kegiatan atau perbuatan apapun (saat menyiapkan kenduri maulid) tetap dimulai dengan selawat, baik mencuci beras, mengulah nasih dan sebagainya,” kata Rawiah.
Selain itu, ibu dua anak itu melanjutkan, kenduri maulid di Leupung juga diberikan kepada tamu untuk dibawa pulang. Kata dia, siapa saja yang datang atau bertamu diberikan bu minyeuk dan lauk yang disediakan pemilik rumah.
“Jadi, ketika mau kenduri maulid, porsinya langsung dikalikan dua, (makan) di rumah dan untuk bawa pulang bagi siapa saja yang datang, semuanya diberikan bu minyeuk. Jadi, begitu mulianya kenduri maulid,” ujar Rawiah.[]


