DI BAWAH renjis hujan, sambil menenteng rantang berisi bubur merah, saya kembali mengunjungi Bunga pada Selasa petang, 10 Oktober 2017. Bersama saya turut dua rekan; Zahida, pengusaha donat Getlatela dan Nailul, bidan yang sehari-hari bertugas di RSZA Banda Aceh. Saat kami tiba di rumahnya, suara kaset orang mengaji yang diputar di masjid mulai terdengar.

Rantang berisi bubur itu lantas saya berikan pada Nurhayati. Perempuan hitam manis dengan wajah khas Asia Selatan–yang diwarisi dari ibunya– itu adalah ibu Bunga, bayi berusia delapan bulan yang mengalami malanutrisi atau gizi buruk. Saya sengaja membawakan bubur agar Bunga bisa ikut menikmatinya.

Mata saya tiba-tiba bertumbukan dengan pemandangan yang menyayat hati. Dua abang Bunga, Rendi yang baru berusia enam tahun dan adiknya Rudi, empat tahun, duduk di pojok kamar sedang makan sebungkus nasi, berdua. “Itu makan pagi orang ini, sekalian siang,” jawab Nurhayati, saat saya tanya kok makan malamnya terlalu cepat.

Anak-anak itu kata Nurhayati, sudah terbiasa dengan pola makan yang tidak teratur. Kalau sudah jajan, sering mereka tidak minta nasi lagi. Sudah akrab dengan serba ketakcukupan. Perihal ini diceritakan Nurhayati saat saya kembali datang pada sore berikutnya, Rabu, 11 Oktober 2017.

Kali ini saya datang sendiri, mungkin ini pula yang membuat Nurhayati lebih nyaman dan leluasa bercerita. Saya perhatikan pertanyaan-pertanyaan yang saya lontarkan tidak dijawab sepotong-sepotong seperti pada pertemuan sebelumnya.

Nurhayati menunjukkan sebuah lemari plastik di belakangnya. “Ini diambil ayahnya punya dibuang orang. Yang penting ada tempat taruh baju udah jadi,” katanya. Ia juga menunjukkan sebuah televisi. “Ini punya orang ditaruh di sini. Sudah nggak hidup lagi pun. Buat dipajang aja,” kata perempuan berusia 26 tahun itu, sebelumnya tertulis 21.

Sebuah dispenser yang ada di meja kecil, ia beli seharga tiga ratus ribu secara kredit. Cicilannya belum habis sampai hari ini. “Kalau baju anak-anak ini saya nggak pernah beli, semua pemberian orang. Kami nggak pernah beli baju. Baju lebaran juga enggak pernah beli kami,” ujar perempuan asal Sibolga, namun memiliki darah Aceh dari ayahnya yang berasal dari Sigli. Kedua orang tua Nurhayati sudah meninggal dunia.

Baca: Saat Gizi Buruk Menghinggapi Bunga

Nurhayati dan dua anaknya @istimewa/KSDA

Aroma pesing sesekali menguar. Menembus indra penciuman saya. Di kamar berukuran tiga kali tiga itu, di mana semua aktivitas berpusat di situ, sebagai kamar, sebagai ruang tamu, sekaligus dapur, mengharapkan aroma segar dan wangi yang semerbak adalah kemuskilan.

Nurhayati bersama suaminya Adi Saputra, 28 tahun, dan tiga buah hati mereka sudah dua tahun terakhir menempati kamar kontrakan di Jalan Tanggul, Kuta Alam, Banda Aceh. Persisnya di belakang Kompleks Kesdam Iskandar Muda. Untuk sampai ke tempat mereka, harus melewati jalan pinggir Krueng Aceh dan melewati lorong yang hanya bisa dilewati sepeda motor. Di kontrakan ini Nurhayati menggunakan fasilitas MCK bersama-sama dengan penghuni lainnya.

Di kamar itulah setiap harinya Nurhayati menghabiskan waktu untuk mengurus anak-anaknya, terutama Bunga yang masih bayi. Sebelumnya ia sempat menyambi kerja, membantu seseorang di Peunayong yang berjualan lontong. Agar bisa membantu suaminya yang seorang pengamen. Tapi sejak tiga bulan lalu Nurhayati memutuskan berhenti karena kondisi Bunga tidak memungkinkan untuk dititipkan terus menerus pada bibinya. Perlahan-lahan, karena kekurangan nutrisi bobot Bunga kian menyusut. Namun kondisinya sekarang menurut Nurhayati sudah jauh lebih baik.

“Waktu saya bawa ke Posyandu kondisi Bunga dikatakan (oleh petugas kesehatan-red) mengalami gizi buruk, lalu dianjurkan untuk dibawa ke rumah sakit tapi harus ada KTP dan KK biar bisa dirujuk. Saya tanya kalau tidak ada KTP gimana, harus bayar katanya, ya saya bilang enggak ada KTP, ini pun sedang diurus,” ujarnya.

Ketika Nurhayati bangkit hendak membuat susu untuk Bunga, saya lantas mengambil bayi itu yang tergeletak di lantai beralaskan tikar sintetis usang, lalu memangkunya. Saat coba saya dirikan, kaki kecilnya tak kuasa menyangga tubuhnya. Langsung lunglai. Badannya terasa ringan. Tangan kecilnya menggapai-gapai. Jari jemarinya yang mungil tampak semakin kecil karena bobotnya belum ideal untuk bayi seusianya. Matanya mengerjap-ngerjap. Dan setiap kali bernapas selalu mengeluarkan suara meugroh-groh. Seperti ada yang menghalangi rongga napasnya. Nurhayati mengaku tidak mengetahui apa penyebab suara itu.

Sementara itu Rendi dan Rudi merengek-rengek pada ibunya. Menunjuk-nunjuk dua bungkusan yang saya bawa tadi. “Itu mie goreng, Buk Ihan bawa buat kalian. Ayo makan terus…” kata saya memberi isyarat.

Kedua bocah itu lantas menyantap mie goreng itu dengan lahap setelah dibagi menjadi dua bagian oleh ibunya. Sebelum makan, tiba-tiba Rudi berdiri dan merenggangkan kakinya. Lalu air berwarna kekuningan mengucur dari sela pahanya. Sang ibu mengambil kain lap dan mengeringkan kencing itu tanpa membasuhnya dengan air. Rudi, dengan celana masih basah duduk kembali beralaskan kain lap tadi. Bersiap menyantap hidangannya. Setelah mienya habis lelaki kecil itu lantas bersendawa, berselang menit kemudian dia kentut. Lalu lepaslah tawanya. Rendi ikut tertawa. Ibunya juga. Saya pun tertawa akhirnya.

Rudi ini sangat spesial bagi Nurhayati. Ia lahir di tengah-tengah kondisi yang sangat memprihatinkan. Pada malam jelang ia dilahirkan ayahnya malah ditangkap karena terlibat perkelahian. Ditambah sepeser pun uang tidak ada, membuat Nurhayati harus mengutang untuk biaya persalinan. Utang itu baru bisa ia lunasi berbulan-bulan kemudian dengan mencicil.

“Dua hari setelah melahirkan dia aku langsung kerja, waktu itu masih kerja di kantin di Mata Ie itu. Dibayar cuma tiga ribu atau lima ribu sehari. Ayahnya nggak ada, kakak bayangkanlah gimana sakitnya aku waktu melahirkan dia. Kalau waktu melahirkan Bunga enak sikit, ada ayahnya yang bantu cuci kain, biaya pun kami pinjam dari koperasi.”

Mendadak saya merasa ngilu membayangkan hal tersebut. Di usianya yang masih setengah abad, lebih dari sekadar asam garam kehidupan yang dirasakan Nurhayati dan keluarganya. Pengalaman hidup yang terlalu dini 'diwariskan' kepada tiga buah hatinya. Tampaknya ia terus belajar untuk memahami dan memaknai hidup. Sebab katanya: sudah bisa makan saja alhamdulillah.[]