Oleh: Syukri Isa Bluka Teubai
Hari Minggu kemarin, tanggal 7 Agustus 2016. Turki telah menciptakan sejarah baru untuk dunia, yangmana negara tersebut telah memberikan kita akanpada contoh demokrasi yang sebenarnya. Dan bukan oleh kerana kebetulan sahaja, akan mereka itu bisa menorehkan sejarah baru untuk dunia ini. Adalah mereka-mereka yang di Turki itu sebagai percontohan.
Sore, di hari Minggu yang bersejarah bagi Islambul, Istanbul tersebut. Penulis bertemu dengan salah seorang aktifis PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh – Turki) di sebuah kedai kupi yang berada di Lampineung, Banda Aceh. Tepatnya di Kantin Smea.
Yangmana sudah dari beberapa tahun di belakang ini, ia selalu mengabari kita tentang perkembangan, kabar-kabar terbaru dari Turki untuk semua yang menginginkan kemajuan di Aceh ini, iaitu kanda Thayeb Loh Angen. Setelah berjumpa dan kami pun bercakap-cakap.
Nanti malam, tepat pada pukul sepuluh Waktu Indonesia Barat, kita akan menonton akhir dari unjuk rasa raya menentang kudeta Turki di The Student Kupi, katanya kepada penulis.
Kemudian penulis mengiakannya, kami masih berada di kedai kopi tersebut. Pukul sepuluh kurang lima belas, barulah beranjak dari kedai itu dan menuju ke kadai yang sudah ditentukan tersebut, iaitu The Student Kupi, kerana ia telah menyiarkan berita di portalsatu.com, yang bahawa nonton bersama akan diadakan di sana.

Kedai The Student Kupi berada di hadapan SPBU Lamnyong, Darussalam. Di sanalah penulis dan beberapa rakan-rakan lainnya menyaksikan sejarah baru bagi Turki tersebut, di antara para penonton yang berkesempatan hadir di Minggu malam tersebut ialah, Teuku Zulkhari, Farhan, Abu Masud, salah seorang pewarta nasional untuk Anadolu Agency dari Aceh dan banyak lainnya.
Yangmana setelah menyaksikan acara yang sangat raya itu, berhinggalah pada keinginan yang sangat besar bagi penulis untuk menuliskannya, menuliskan tentang perhelatan megah akan sejarah yang menggemparkan dunia ini. Adalah perhelatan raya itu, merupakan sebuah kebangkitan yang nyata bagi negara tersebut.
Terlebih lagi akan menggemparkan mereka-mereka yang tiada cinta terhadapnya, terhadap Islam. Dengan adanya peristiwa itu, mudah-mudahan sahaja musuh-musuh yang membenci Islam tersadar kembali dan mengakuinya lagi bahpun dengan keterpaksaan di hati.
Meskipun di kala selera makan para sekalian pembenci, pencaci, pendengki-pendengki dan antek-anteknya itu tiada berhasrat di masa beberapa hari ini dan mungkin selamanya. Yang namun mereka harus mengakuinya, harus mengakui kegemilangan tersebut.
Bintang-Bulan berwarna kemerahan masih terpegang erat di sekalian tangan-tangan masyarakat Turki, mereka telah membuktikan kepada dunia. Yang bahawa bintang bulan itu harus tetap berkibar di langit-langit negerinya tersebut. Mereka akan tetap setia, terus menjaga bulan dan bintang itu sampai kapanpun.
Mereka punya partai-partai besar dan berbeda visi di dalam misi masing-masingnya, namun hari ini mereka telah membuktikan kepada dunia. Bahawa semua mereka yang ada di Turki adalah satu, mereka bersatu di bawah bulan bintang. Perhelatan itupun telah selesai kami saksikan bersama-sama, sampai pada pukul dua kurang dua puluh menit dini hari.
Agustus ini telah menjadi saksi sejarah bagi masyarakat Turki, begitu juga masyarakat Aceh, bulan Agustus adalah bulan yang tiada mungkin untuk dilupakan oleh sekalian Aneuk Nanggroe.
Di saat penulis ingin mengakhiri cerita ini, namun banyak hal yang masih terbesit di dalam hati. Hari ini, bagaimana dengan kita, anda-anda yang sering melihat kepada telapak tangan sendiri pasti memahami maksud dari kata kita di sini. Dan berapa lama lagi harus menanti!
Penulis, berdomisili di Banda Aceh.

