Pada tulisan sebelumnya, penulis ada menyinggung soal kelas buruh, bahwa buruh secara praktis, nilainya diukur berdasarkan tenaganya dalam waktu tertentu untuk kepentingan produksi. Maka ada istilah buruh tani, buruh bangunan, buruh pabrik dsb.
Namun berbeda dengan pekerja, disini ia tidak hanya dinilai berdasarkan tenaga saja, tetapi juga skill yang ia miliki sesuai kebutuhan pihak perusahaan atau sejenisnya. Untuk itu, seorang yang masih tergantung sebagai buruh, ia bisa mencoba mempelajari keterampilan khusus di bidang yang ia kuasai, untuk kemudian menjadi mandiri atau diakui skillnya. Bahkan terkadang, skill tersebut berbeda dari bidang yang ia geluti, misal kisah tukang becak yang mengambil waktu di kuliah malam, lalu dapat terampil dalam menulis dan akhirnya menjadi penulis dan dosen.
Adapun profesional, selazimnya adalah seorang yang sudah sampai pada tarap cakap secara keahlian dan telah menempuh kegiatan khusus dalam mencapai kompetensi tersebut. Atau ia sampai pada level profesional berdasarkan akumulasi keahliannya yang dikembangkan terus menerus dengan menjaga seluruh aspek pendukungnya seperti relasi, komitmen dsb. Hingga seorang profesional akan dihargai karena keahlian, pengalaman dan waktunya. Maka secara finansial, seorang profesional akan lebih berpeluang (ASN, memiliki skema sendiri dalam mengukur profesionalitas dan nilai ekonominya).
Namun dalam hal profesional ini, ada yang sering diabaikan bahwa kata “profesi” merupakan makna ikatan spiritual seseorang akan pilihan tugas/kerja yang ia ambil, berdasarkan nilai batin dan pilihan sadarnya, agar ia dapat bahagia dan berkembang dalam kegiatannya. Jadi seorang profesional mesti tidak boleh abai akan nilai transenden. Maka bila ada seorang profesional yang masih menampakkan sikap rendah dan bekerja dengan curang dsb, maka ia telah merendahkan kekuatan dirinya sendiri.
Dan yang lebih penting lagi, Allah tidaklah Menilai seseorang berdasarkan label “status”nya, apakah ia buruh atau pekerja atau pengusaha, melainkan berdasarkan bagaimana ia memulai, memproses dan mengakhiri pekerjaannya hingga bernilai ibadah dan berkah serta tidak bergantung pada materialisme.
Taufik Sentana
Bergiat di Pengembangan SDM dengan Program Seminar dan Training untuk Produktivitas dan Kepemimpinan Diri.



