BANDA ACEH – Ketua Komisi 2 DPR Aceh, Nurzahri, menyebutkan temuan cadangan Migas di celah Simeulue atau Blok Simeulue sebenarnya bukan hal yang baru diketahui publik di Aceh. Menurutnya cadangan migas tersebut sudah lama ditemukan oleh BPPT yg bekerjasama dengan beberapa peneliti dari Jerman pasca tsunami 2005.
Kepada portalsatu.com, Nurzahri mengatakan, sudah ada beberapa perusahaan besar yang berminat untuk mengeksplorasi blok tersebut. Dia mencontohkan seperti perusahaan TOTAL dari Prancis.
“Hanya saja, mengingat belum terbentuknya Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA), blok tersebut direkomendasi untuk ditunda dahulu proses lelangnya sampai terbentuknya BPMA. Karena bila dipaksakan tender pada masa itu, tentu Aceh tidak akan mendapatkan bagian apapun dari hasil migas yang ada di Blok Simeulue,” kata Nurzahri, Jumat, 3 November 2017.
DPRA, kata Nurzahri, sampai saat ini belum mau mengeluarkan rekomendasi untuk eksplorasi Blok Simeulue. Sikap ini dipertahankan sampai semua permasalahan Blok Simeulue selesai.
“Dan adanya kejelasan mengenai besaran bagi hasil untuk Aceh,” katanya lagi.
Di sisi lain, kata Nurzahri, BPMA masih dalam kondisi berbenah dan merekrut pegawai.
“Kita harapkan setelah permasalahan internal BPMA selesai, BPMA dapat segera mengajukan permintaan rekomendasi kepada DPRA agar blok Simeulue dapat segera dieksplorasi,” katanya.
Meskipun demikian, Nurzahri mengaku pihak DPRA hingga sekarang belum mengetahui sejauh mana proses pembenahan di internal BPMA. Bahkan, Nurzahri mengatakan, BPMA belum pernah melaporkan kegiatannya semenjak terbentuk kepada DPRA.
Dia menyarankan agar Pemerintah Aceh melakukan pembenahan terhadap manajemen BPMA dan merekrut personil-personil yang berkualitas dan berpihak kepada Aceh. Tentunya, kata Nurzahri, BPMA memperioritaskan warga Aceh sebagai personil di badan pengelolaan migas tersebut.
“Serta melaporkan secara berkala kepada DPRA agar DPRA dapat memastikan bahwa apa yang dilakukan BPMA ke depan akan selalu menguntungkan Aceh,” kata Nurzahri.[]




