Ia Menamakan DiriNya sebagai Cahaya
yang Mencahayai langit dan bumi.

Tampaknya amat sederhana
padahal secara fisikal amat rumit adanya.
Sebab benda benda yang tampak lewat inderawi mata melalui fase cahaya, 
bahkan proses sintesa pada daun juga dengan energi cahaya hingga (diantaranya) menjadi oksigen yang kita hirup kapan saja.

Kemana saja kita menatap dan menangkap benda, peristiwa dan gejala semua berawal dari cahaya. Yang kita baca dan pelajari pun dirajut dari cahaya, yang sejatinya sampai pada pengertian tentang Si Pemberi Cahaya. Agar tak sia semua latihan akal dan jiwa.[]

Taufik Sentana
Peminat sastra sufistik