Jika melintas di Desa Bagorejo, Kecamatan Srono Kabupaten Banyuwangi, terlihat bangunan menyerupai klenteng dengan dominasi warna hijau dan merah.

Bangunan tersebut berdiri di sebelah saluran irigasi dan dihubungkan ke jalan raya dengan jembatan berwarna merah yang mempertegas arsitekur China. Tidak ada yang menyangka jika bangunan tersebut adalah mushola Al-Mukasyafah yang didirikan oleh pemuda desa setempat pada pada tahun 2010 lalu.

Mushola tersebut terinspirasi dari klenteng Laksamana Cheng Ho.

Kepada Kompas.com  Joko Triyono, pengelola mushola, menjelaskan, awalnya mereka hanya ingin membangun mushola kecil ukuran 4 x 4 untuk tempat beribadah dan kumpul kumpul pemuda di lingkungan tersebut. Sebelumnya sudah ada musholanya namun harus direnovasi.

“Dana awal yang dikumpulkan pemuda desa sekitar 4 jutaan kemudian dibuat pondasi lalu mereka bergerak lagi mencari dana. Tidak lama, kurang dari 6 bukan mushola ini sudah jadi,” ujar dia, Senin (22/2/2015).

Total hingga selesai, bangunan mushola tersebut menghabiskan anggaran sebanyak Rp 175 juta dengan pendanaan murni dari masyarakat.

Saat ini, mushola tersebut bukan hanya sekedar untuk beribadah tapi juga untuk tempat kumpul pemuda desa.

Di sebelah kanan dan kiri mushola terdapat bangunan semi permanen yagg sering digunakan nongkrong sekedar ngobrol dan ngopi-ngopi warga setempat.

Terkait arsitektur Tionghoa yang mendominasi mushola tersebut, Joko menjelaskan tidak ada maksud apa apa hanya saja mereka memutuskan membuat model seperti klenteng setelah melihat gambar klenteng di internet.

“Ya sudah dibuat aja. Sebagai bentuk kerativitas pemuda desa. Yang penting menarik dan nyaman untuk beribadah dan berkumpul. Padahal di sini enggak ada orang Tionghoanya, ” jelas Joko sambil tertawa.

Sementara untuk ornamen mushola tersebut adalah kaligrafi dalam bentuk arab yang menghiasai bagian depan dan dalam mushola. Bahkan saat imlek, pemuda memasang lampion di bagian depan agar lebih semarak.

“Tempat ibadah bukan hanya sekedar untuk beribadah tapi juga bagaimana caranya agar nyaman untuk kumpul. Untuk silaturahmi juga. Banyak orang yang kebetulan lewat dan singgah ke mushola ini. Kami terbuka lebar siapapun itu yang datang,” ujarnya. | sumber : kompas