Konya, melepas rindu kepada Hazreti Mevlânâ Rumi.

Turki mempunyai sistem transportasi yang bagus menghubungkan antar kota. Selain pesawat, kapal, bus, juga mempunyai jaringan kereta api yang modern. Tidak semua kota memang, namun beberapa kota strategis, sudah terhubung dengan sistem kereta api cepat.

Setelah mencoba naik bus dari Istanbul ke Ankara yang nyaman dengan hidangan teh dan snack dan berhenti setiap tiga jam, kemudian pesawat dari Ankara ke Samsun di tepi laut hitam dengan AnadoluJet, kemudian kami juga naik kereta api cepat dari Ankara ke kota Konya menempuh jarak 270 kilometer hanya dalam satu jam, lima puluh dua menit.

Kurang 100 kilometer dari Konya, jantung berdegub kencang. Rupanya rasa rindu kepada Maulana Jalaluddin Rumi datang menyergap. Rindu untuk segera sampai ke makam Maulana untuk mendoakan kepada Allah agar Maulana dan seluruh ulama sufi yang dimakamkan di kota itu mendapatkan kelapangan dari Yang Kuasa.

Konya memang dikenal dengan kota Sufi. Seluruh kota berada pada hamparan tanah datar, tanpa ada bukit sedikit pun. Ada bukit kecil di tengah kota, itupun timbunan zaman dahulu, agar rumah-rumah pejabat dan orang kaya bisa lebih tinggi dari rumah penduduk lainnya.

Kota ini juga dikenal dengan tradisi Sema, tarian darawish yang berputar-putar. Biasa dilaksanaan setiap tahun di saat memperingati haul Maulana Jalaluddin Rumi.

Setelah kereta berhenti di stasiun, kami menggunakan bus untuk menuju pusat kota. Masya Allah, kota sangat indah. Sepanjang jalan, halte penuh dengan kebun bunga. Anak-anak saling berlarian. Sungguh kota yang menyenangkan, sesuai dengan julukannya sebagai ibukota pariwisata dunia islam.

Kami singgah di hotel tidak jauh dari mausoleum Maulana, bangun indah dengah kubah menjulang lancip berwarna hijau tua.

Kami memasuki komplek mausoleum, dari pintu masuk yang berhadapan dengan komplek kuburan para ulama sufi. Masuk ke dalam taman yang indah dalam komplek utama, kemudian ada pintu satu lagi ke kiri, di sana lah komplek kuburan dan museum Maulana.

Dalam komplek kecil ini, diawali dengan bangunan utama, dan bangunan di sebelahnya yang berisi barang-barang peninggalan Maulana. Kami masuk ke ruangan dalam. Sebelah kanan, di baris pertama, kuburan para wali dan sufi terkemuka seperti Rasyid Syalabi, tiang kedua beberapa kuburan diantaranya Muhammad Hamdan Syalabi dan Syekh Karimuddin.

Tepat di kolom ke tiga, disinilah bersemayan ulama asal Iran terkemuka yang menjadi kebanggaan dunia, Jalaluddin Rumi.

Seperti semua kuburan lain, batu nisan melambangkan tangkulok, mirip penutup kepala. Di atas kubur Maulana, dibentangkan kulit besar bertuliskan kaligrafi indah. Demikian juga di tembok, penuh dengan khat dan hiasan yang mengagumkan. Kami berhenti sejenak, berdoa kepada Allah agar Maulana dan semua yang dimakamkan di sana, dilapangkan kubur mereka.

Kemudian sebelah kuburan Maulana, juga banyak kuburan lain.

Kami beranjak dari sana, dan keliling ruangan, banyak dipamerkan alquran dan kitab tulisan tangan. Juga peninggalan salah seorang sultan.

Tiba waktu salat zuhur, kami salat di musalla yang tersedia.

Kami keluar mausoleum, seperti pindah dari sebuah zaman emas penuh peradaban dan tingginya seni, kembali ke masa sekarang.

Diiringi musik-musik religius dari puisi-puisi karangan Maulana Rumi, ratusan wisatawan dari berbagai negara bergantian masuk.

Konya, kota strategis di jalur sutra di pusat Anatolia ini pernah menjadi ibukota Seljuk dengan kerajaan bernama Rum. Karena tinggal di sana, Maulana Jalaluddin dikenal dengan Rumi.

Sorenya, setelah beberapa urusan, ditraktir seorang kawan untuk makan Etliekmek di restoran terkenal bernama Cemo, sejenis pizza daging yang menjadi khas kota Konya.

Munawar Liza Zainal,
Konya, Turki