Pikun (demensia) adalah istilah medis yang digunakan untuk menggambarkan sekelompok gejala yang terdiri dari kehilangan ingatan, gangguan penilaian, disorientasi, dan perubahan tingkah laku, yang cukup akut untuk mengakibatkan kehilangan fungsi (www.singhealth.com.sg).
Sebagaimana dikutip dari singhealth.com, disebutkan bahwa penyakit ini bukanlah bagian dari proses penuaan normal meskipun lansia lebih rentan untuk menjadi pikun. Demensia (pikun) terjadi akibat adanya degenerasi fungsi otak, yang pada akhirnya mempengaruhi kegiatan sosial atau kerja (misalnya pekerjaan, hobi, berbelanja, memasak, berpakaian, makan, mandi dan kegiatan higienis).
Pikun tak hanya dialami para orang tua. Usia muda juga rentan terkena penyakit ini. Gejala kepikunan di usia muda dalam ilmu kedokteran disebut short memory syndrome. Penyebabnya macam-macam, seperti beban kerja yang terlalu berat pada usia muda, adanya gangguan pada peredaran darah di organ otak, banyaknya teknologi maju yang semakin canggih sehingga kemampuan otak jarang kali diasah (Sumber: www.necturajuice.com).
Lantas bagaimana menghindarinya? Ada banyak cara dapat dilakukan untuk menghindari hal itu. Salah satunya adalah dengan belajar menguasai dua bahasa atau lebih.
Peneliti di India dan Inggris menemukan bahwa pasien bilingual yang mereka teliti menerima kepikunan lebih lambat dari mereka yang hanya menguasai satu bahasa saja.
Hasil yang terbit di jurnal Neurology ini meneliti pasien Alzheimer juga, serta tidak melihat latar belakang ekonomi pasien. Kebanyakan pasien yang diteliti berada di India, negeri yang berbahasa banyak.
Sementara itu rekan peneliti di India di Nizam Institute of Medical Science di Hydrabad adalah institusi yang khusus menangani pemerolehan bahasa dan kepikunan. Pasien yang diteliti sebanyak 648 orang dengan rerata usia 66 yang sudah pikun.
Sebanyak 240 menderita Alzheimer, 189 menderita vascular dementia (menurunnya kemampuan berpikir karena darah tidak banyak di otak) dan 116 menderita frontotemporal dementia (demensia yang mempengaruhi otak depan), dan sisanya campuran.
Sebanyak 400 pasien bisa dua bahasa dan banyak dari mereka buta huruf. Mereka yang bilingual bisa memperlambat laju kepikunan daripada yang hanya bisa satu bahasa. Terlepas dari pendidikan dan status ekonomi, menguasai dua bahasa sangat menguntungkan bagi otak. Kemampuan berpindah dari satu bahasa ke lainnya mengaktifkan banyak bagian di otak, ini yang menghambat kepikunan.
Maka, tunggu apa lagi? Ayo belajar bahasa!
(Sumber: intisari-online.com via nationalgeographic.co.id)

