BANDA ACEH – Harga emas yang belum kunjung turun tampaknya masih dikait-kaitkan dengan asumsi semakin banyak pria Aceh yang menunda pernikahannya. Meski hanya sebagai lelucon, harga emas yang cenderung terus bergerak naik memang membuat hati ketar-ketir. Tapi, apa pendapat pria Aceh tentang persoalan ini?

Salah seorang blogger Aceh, Yudi Randa, turut memberikan pendapatnya terkait hal ini. Menurut pria berkacamata ini, mahalnya harga emas tak perlu dikait-kaitkan dengan alasan untuk menunda pernikahan. Bahkan menurutnya ini bisa menjadi tantangan tersendiri bagi kaum pria untuk memperjuangkan calon pasangan hidupnya.

“Sekarang mahal mana pelayanan seumur hidup dengan hanya (mahar) 20 mayam?” ujar ayah dua anak yang pada 2011 lalu mempersunting gadis asal Pidie sebagai istrinya.

Menurutnya, mahal atau tidak itu tergantung kemampuan seseorang, tidak bisa disamaratakan. “Anggap saja sebagai pembuktian cinta kepada kekasih, kalau bukan di awal kapan lagi?” ujarnya kepada portalsatu.com.

Ia pun sedikit berbagi kisah saat melamar sang pujaan hati dengan mahar 20 mayam emas. Dengan harga emas Rp 1,6 juta permayamnya ketika itu, pria asal Aceh Besar ini harus mengeluarkan Rp 32 juta untuk jeulamee saja.

Itu belum termasuk biaya untuk asoe talam alias antaran dan asoe kama atau isi kamar yang biasanya terdiri dari tempat tidur, lemari pakaian dan kaca rias.

“Kurang lebih (habis) 80 jutaan, sebagian ikut ditanggung keluarga,” kata Yudi merincikan total biaya pernikahannya ketika itu.[](ihn)