Beranda Tarek Pukat

[CERPEN] Tarek Pukat

Populer

Karya: Syukri Isa Bluka Teubai

“Ka lhom saoh ju, hai Ma’e (Ismail lempar terus sauhnya),” Suara Bang Asan menyuruh Ismail untuk melempar sauh perahu pukat itu. Sauh dilempar ke laut untuk menghentikan laju perahu, laksana rem tangan pada kendaraan darat. Dan apabila sudah benar-benar dibutuhkan, barulah itu (rem/sauh) digunakan.

Sebagaimana kehidupan orang-orang pesisir, adalah Tarek Pukat bukan menjadi pengisi waktu senggang. Melainkan pekerjaan itu adalah penyambung akan kehidupan, sejatinya. Pada cahaya matahari yang terik tiada lagi menjadi sebuah halangan/alasan untuk mereka tiada bekerja.

Sejenak, sambil menunggu kerumunan ikan teri itu menyatu dalam peraduannya. Angin bertiup dari barat ke timur, pertanda lagi musim ikan teri. Kebiasaan akan kebiasaan memang sudah begitunya. Dasar segala sesuatu berkala dan musiman memanglah banyak hal akannya begitu.

“Ka, ka jeuet katarek saoh, eungket ka ji beudoh jeh pat di baroh (Sudah bisa tarik sauh, ikan sudah berada di dekat tepian pantai),” suara Bang Asan menyeru. Adalah Bang Asan yaitu seorang pawang perahu pukat itu. Ia sudah sangat lihai dalam hal menjala ikan dengan pukat di laut.

Pawang, adalah nakhoda di kapal-kapal pesiar ataupun yang sejenis dengannya. Pawang Asan menyuruh semua rakan-rakannya -anak buah pawang-  untuk mengayuh perahu dengan serentak, agar lajunya kencang. Apabila tiada serentak perahu yang dikayuh menggunakan dayung tersebut tiada akan melaju kencang.

Sampai di tepian pantai, Apa Him meloncat dari perahu sembari membawa turun bersamanya akan tali pukat pertama ke darat. Puluhan orang sudah menanti akannya tali pukat itu diturunkan. Pawang Asan dan rakan-rakannya yang lain terus mengayuh perahu itu untuk mengitari kerumunan teri.

‘Pukat darat’ berbeda polanya dengan ‘pukat laut’, jikalau pukat darat orang-orang yang menariknya berada di darat, dan pukat laut ditarik oleh katrol mesin. Pawang Asan dan rakan-rakan itu terus mengitari kerumunan teri, sehingga sampai ke tepian lagi. Milyaran teri sudah berada di dalam pukat yang mengitarinya, hanya tinggal proses penarikan sahaja akan pukat itu ke darat.

“Njan sang pukat ureueng baroe, meunyoe hana salah nan pawang jih Pawang Asan (Itu pukat kemarin, dan kalau tidak salah juga nama pawangnya, Pawang Asan),” Zulfan bercakap-cakap dengan pakwanya –Paman. Dan ia menyambung lagi kata-katanya sembari bertanya-tanya.

“Dia tidak pelit, walaupun kita tidak menarik akan pukatnya niscaya beliau memberi ikan hasil tangkapan kepada sesiapa sahaja yang ada di situ pada sa’at pukat sudah tiba di tepian pantai.” Setelah berkata seperti itu, ia menoleh ke arah pakwanya yang lagi asyik melihat orang-orang itu sedang menarik pukat.

Adapun Zulfan seorang anak pantai juga, sukanya memancing, berenang baik di laut ataupun di sungai, pekerjaannya tidak jauh dengan air dan pantai. Ia bukan orang yang rajin belajar, belajar pada pelajaran sekolah. Tetapi pada hal yang lainnya, itu sungguh sangat ia sukai. Membuat layang-layang, membuat boat/mobil dari pelepah rumbia dan semacamnya menjadilah itu hal yang sangat mudah baginya.

“Nyoe, nyan pukat ureueng baroe, pukat Pawang Asan (Iya, itu memang pukat kemarin, pukat Pawang Asan),” Pakwa Ghani pun menjawab pertanyaan ponaannya itu. Dan ia terus berkata-kata.

“Sudah terkenal ia nya murah hati tidak pelit, suka membagi-bagi rezeki sebisa dan semampunya,” kilah pakwanya Zulfan, dan mereka hanya menonton sahaja tentang apa yang sedang berlaku di pagi menjelang siang itu. Dari jarak dekat, dengan seksama mereka menikmati sebuah pemandangan yang sangat klasik bagi mereka yang jarang melihat akanpada orang-orang yang sedang menarik pukat itu. 

“Perhatikanlah dengan seksama setiap gerakan orang-orang yang menarik pukat itu, baik langkah sedianya bersamaan. Imbang antara kedua sisinya, adalah di sana sebuah filosofi. Dasarlah di situ kekompakan, keakraban, kebersamaan, keteraturan akan keterampilan padanya,” Sejenak pakwanya terdiam.

Zulfan terangguk-angguk akan kepalanya. Walau umurnya baru dua belas tahun, niscaya ianya pandai, berpikiran dewasa, senantiasa cerdas otaknya. Karena ia seorang anak yang suka bertanya-tanya, kepada siapa sahaja ia akan bertanya jikalau ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.

Dalam hal menarik akan pukat tersebut adalah tali pengait khusus untuknya pada tali utama (tali pukat tersebut), orang-orang menggunakan tali pengait (taloe lamat) di pinggang gunanya sebagai pengikat dirinya dengan tali pukat utama tersebut. Dengan demikian barulah mereka bisa menarik akan pukat darat itu.

“Satu hal lagi walau ini hanya lelucon, tiada berkenaan dengan pukat tadi. Sering sekali kita mendengar di kalangan masyarakat Aceh khususnya. “Usen ho kaneuk jak, nyan? Long nak jak u Jepang, Long nak meurumpek ngen Tengku Amib (Husen, mahu ke mana itu? ke Jepang, mahu menjumpai Tengku Hamid).” Dan ia menyambung lagi dan lagi kata-katanya.

“Pajan kabaye utang long? Ate gewoe tengku Amib i Jepang (Kapan bayar hutang saya? Waktu Tengku Hamid pulang dari Jepang?). Jawaban seperti itu adalah artian dari tak akan pernah lagi dibayar akan hutang tadi sampai kapan pun.” Belum juga pakwa itu selesai berbicara.

“Dalam hal kebiasaan akan kebiasaan, hal-hal yang semacam ini adalah lelucon-lelucon orang terdahulu,” Pakwa Ghani belum juga berhenti berkata-kata.

“Zulfan, sebenarnya Teungku Hamid tidak pernah ke Jepang, Yang Pakwa tahu, adalah tengku Hamid itu Pangwa Meuredu, Duta Aceh yang pertama sekali berada di tanah Eropa, beserta beberapa perwakilan Pedagang Aceh yang diundang oleh bangsa Eropa tempo dulu.” Semakin seru sahaja cerita lelaki berkumis tebal ini.

“Dia ke Eropa, begitu tertulis di dalam sejarah, paman tidak tahu dengan hal teungku-teungku Hamid yang lain. Adalah kebiasaan-kebiasaan masyarakat dengan hal-hal yang demikian, walau tidak ada yang merasa dirugikan. Akan tetapi sejarah jangan sekali-kali diputar balikkan,” kata Pakwa Ghani dengan nada geram.

Pawang Asan dengan sigapnya menyemangati penarik-penarik pukat itu. Sangat jelas terdengar akan suara-suara bentakan, bersahut-sahutan, menyeimbangi riuhnya ombak yang menyapu pantai.

“Seperti paman bilang tadi, lihatlah pukat yang sedang ditarik oleh orang-orang itu. Niscaya ianya seimbang, ikan-ikan yang ada di dalamnya itu tiada akan bisa lari lagi oleh karena setiap sisi-sisi dari pukat itu sendiri rata,” Pakwanya pun mengelap akan badannya yang berkeringat.

Sebentar lagi pukat itu akan sampai ke tepian, pastilah mereka akan menikmati teri hasil jerih payahnya, berjayalah Pawang Asan yang baik hati. Senantiasa pukatnya bisa dilabuh sepanjang zaman berlaku, berjayalah Pawang Asan dan rakan-rakan setianya.

Suara riuh menandakan kebahagian mereka yang sedang bersenandung dengan asa, harapan, impian dan juga cita-cita sehari-harinya. Dan larutlah canda itu melebur ke dalam deburan bersahaja akan pematang ombak berbuih yang menghadirkan busa.

“Sangatlah bermanfa’at untuk hari ini, walau hanya melihat akanpada orang-orang yang sedang menarik pukat,” Guman Zulfan di dalam hatinya.

Syukri Isa Bluka Teubai, Lahir di Bluka Teubai, Kec. Dewantara. Kab. Aceh Utara. Ia merupakan salah seorang alumnus Sekolah Hamzah Fansuri angkatan kedua tahun 2015. Alumni Misbahul Ulum Paloh, Lhokseumawe.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terkait

Berita lainya