ACEH UTARA – The Canada Fund for Local Initiatives (CFLI) bersama Yayasan Geutanyoe Aceh menyalurkan paket sembako serta bantuan peralatan kebersihan bagi penyandang disabilitas dan lanjut usia (lansia). Penerima bantuan itu merupakan warga terdampak banjir bandang di Aceh Utara.

Penyaluran bantuan itu dilakukan kepada warga terdampak banjir di Gampong Bluka Teubai, Geulumpang Suli Timur, Lancang Barat, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara, serta beberapa gampong (desa) lainnya, Rabu, 4 Maret 2026.

Kegiatan tersebut wujud solidaritas dan komitmen kemanusiaan dalam membantu masyarakat memenuhi kembali kebutuhan dasar serta bangkit menata kehidupan pascabencana.

Diketahui, banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh Utara pada akhir November 2025 menyebabkan ribuan warga terdampak. Rumah-rumah terendam, fasilitas umum rusak parah, serta berbagai perlengkapan rumah tangga hanyut terbawa arus.

Selain merusak infrastruktur, bencana tersebut juga memukul kondisi ekonomi masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti penyandang disabilitas, lansia, ibu hamil, dan anak-anak. Banyak di antara mereka kehilangan sumber penghidupan serta mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.

Hingga saat ini, sebagian warga masih berjuang memulihkan kehidupan mereka. Sejumlah peralatan penting, termasuk perlengkapan memasak, belum dapat diganti setelah hilang tersapu banjir bandang.

Humanitarian Field Staff Yayasan Geutanyoe Aceh, Cut Diana, dalam keterangannya, Rabu (4/3), mengatakan bantuan ini diberikan sebagai langkah tanggap darurat untuk menjawab kebutuhan mendesak warga. Sebagian besar peralatan memasak hilang terbawa arus banjir, sehingga masyarakat mengalami kesulitan dalam menyiapkan makanan sehari-hari.

“Bantuan yang didistribusikan ini tidak terlepas dari dukungan dan kolaborasi para mitra kemanusiaan, yang memiliki kepedulian terhadap kondisi masyarakat terdampak bencana,” kata Cut Diana.

Menurut Diana, setiap paket yang disalurkan bukan sekadar bantuan material, melainkan simbol empati dan harapan agar warga tetap kuat menghadapi masa sulit, dan tidak merasa sendiri dalam proses pemulihan pascabencana tersebut.[]