BANDA ACEH – Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud Al Haytar memberikan sambutannya pada peringatan 11 tahun perdamaian Aceh di Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, 15 Agustus 2016.
Dalam pidatonya ia menceritakan kilas balik 'panasnya' perundingan antara GAM dan Pemerintah Indonesia di Helsinki, Finlandia ketika itu. Tiba-tiba hujan pun turun dengan derasnya.
“Suasana meja perundingan agak panas kala itu. Saat kami ceritakan alasan kami berontak, delegasi Indonesia marah-marah dan mengatakan akan pulang. Akan tetapi, suasana kembali kondusif setelah itu,” ujarnya berkisah.
Langit yang awalnya sangat cerah menjadi redup. Hujan turun disertai angin kencang. Wali Nanggroe pun menghentikan pidatonya. Meja Wali pun digeser agak ke dalam panggung.
“Hujan telah turun ini tanda suasana telah sejuk,” ucap Malik Mahmud memulai kembali pidatonya yang sempat terhenti beberapa saat.
Dalam pidato tersebut Wali Nanggroe berbicara banyak hal seperti menjaga perdamaian dan meningkatkan perekonomian Aceh. Ia mengatakan, perjuangan belum berakhir, tetapi perjuangan sebenarnya baru dimulai.
“Kesejahteraan rakyat Aceh harus diutamakan. Mari kita rajut perdamaian ini,” kata dia.
Hujan pun akhirnya mereda. Suasana yang tadinya hangat kini menjadi sejuk. Suasana kembali berubah khidmad meski sempat terusik karena hujan dan tiupan angin kencang.[](ihn/*sar)



