Mungkin tidak banyak yang berusaha mengenal makna buruh dan bagaimana etos buruh itu mengendap dalam memori angkatan pelajar kita. Anggap saja bahwa kelas buruh yang kita maksudkan ini muncul setelah era industri Eropa yang bersinggungan dengan imperialisme dan kolonialisme, atau lebih parah, penjajahan dan perbudakan baru.
Ketika pabrik-pabrik telah menjadi ikon masyarakat kota dan industri, maka pendidikanpun (baca sekolah), seakan menyesuaikan diri dengan tuntutan sekitar (global) guna memenuhi angkatan kerja. Maka banyak kita jumpai sekolah kejuruan tertentu dengan pragram khusus dan singkat, dan ini juga terkondisi oleh sistem sosial setempat atau potensi belajar siswa.
Bila kita telisik makna buruh secara praktis, maka kita jumpai bahwa seorang buruh mendapatkan bayaran, khususnya karena tenaganya yang tercurah untuk kegiatan produksi (kini mulai tereliminir dengan sistem mesin). Artinya etos buruh hanya menyesuaikan tenaganya untuk hasil tertentu, dimana hasil itu tidak berkaitan langsung dengan skill khusus.
Pendeknya, sekolah sekolah yang tidak berupaya menyelaraskan siswa dengan potensi dan skill relevan, hanya membiakkan kualitas “buruh” dalam diri si murid, hingga ia tidak mampu memandang hidup dan kemungkinan peluang untuk nilai yang lebih tinggi.
Untuk itu, bagi yang telah masuk dalam angkatan kerja dengan status “buruh”, hendaknya dapat mengondisikan diri agar bisa bergeser ke kuadran “pekerja”, yaitu seseorang yang dihargai karena keterampilannya. Hingga terus bertahap melampaui level usaha mandiri dst.
Namun dalam sistem sosial kita yang timpang, entah bagaimana bisa, sistem upah (penggajian) buruh masih lebih masuk akal (ikut pola UMR) daripada upah (gaji/tunjangan) guru “lepas” dengan strata dan keterampilan khusus. Padahal peran sosial guru tidak dapat kita remehkan.
Oleh Taufik Sentana
Peminat kajian sosial, berkhidmat di pendidikan Islam sejak 1996.



