Menuju Pilkadasung 2017, PA telah mendeklarasikan seluruh kandidat. PA kembali “peuleumah tajoe” sebagai partai penguasa di Aceh.
Pilkada yang akan berlangsung tahun depan terasa jauh berbeda dengan pilkada sebelumnya. Pesta demokrasi kali ini terasa lebih sejuk. Jika pilkada sebelumnya terasa amat keras, kali ini kekerasan turun drastis. Ini menunjukkan politik Aceh makin dewasa.
Deklarasi kemarin juga menjawab tudingan sebelumnya. Bahwa dahulu PA memaksa rakyat ikut. Akan tetapi deklarasi akbar di Taman Ratu Safiatuddin menunjukkan partai ini jauh dari tudingan itu. Namun pomeo “meunye ta benci yang beuna pih salah” tetaplah terjadi.
Menyemutnya massa saat deklarasi akbar di Banda Aceh membuktikan PA masih mendapat tempat di hati pemilih di Aceh. Maka amat mungkin pilkada 2017 masih milik mereka. Namun yang paling pokok dari deklarasi itu adalah rekonsiliasi. Pertentangan internal PA yang mengemuka sebelumnya mencair seiring suksesnya deklarasi tersebut.
Peristiwa deklarasi akbar itu juga mengirim sinyal yang jelas kepada kandidat sempalan PA. Sinyal bahwa pemilih tidak akan ikut kaum sempalan. Mereka juga merasa “ta plah kawan lam rimba, dicok teuh le rimueng“. Oleh karenanya, para sempalan sudah boleh berhitung ulang. Harus kembali untuk tidak “cet buluen ngon puteng sadeup“. Apabila mereka berharap massa atau pemilih akan lari ke arah mereka.
Barangkali di kalangan simpatisan PA atau GAM di masa lalu, hanya Hasan Tiro yang menjadi tokoh panutan. Akan membenarkan apapun titah beliau. Setelah damai, maka PA-lah representatif mereka. Bukan orang perorang atau tokoh-tokoh PA. Maka hanya sedikit yang akan ikut para kandidat sempalan. Sedangkan pemilih nasionalis atau anti-GAM/PA pasti akan melabuhkan suara pada calon parnas.
Namun boleh jadi para kandidat sempalan sebenarnya sengaja muncul. Seolah-olah melawan PA. Padahal mereka sebenarnya sedang melempangkan jalan bagi calon PA. Sebab mereka membaca tren menurunnya suara PA pada pileg yang lalu. Mereka juga membaca regulasi bahwa tidak ada putaran kedua pada pilkada 2017. Maka apabila kandidat yang muncul sedikit. Misalnya, hanya satu atau dua pasang di luar PA, potensi kekalahan PA jadi besar.
Nah, dengan komposisi calon saat ini, PA mungkin hanya perlu mempertahankan penilih tradisionalnya saja. Dan memastikan mereka untuk menang. Apalagi dua calon parnas sangat kapabel untuk dipilih kaum di luar PA. Sedangkan “swing votter” akan terpecah-pecah. Maka amat patut kita duga Apa Karia dan Abu Doto sedang melempangkan karpet merah untuk Mualem menuju Aceh satu.
Oleh karena itu, mari melihat sisi positif dari persaingan ini. Para simpatisan PA tentu harus berhati-hati agar mereka tidak melakukan kekerasan. “Keupue tajak reupah atra yang ka dijok“. Mari berpolitik yang santun. Tunjukkan kita bisa berpolitik yang lebih baik. Semoga.[]

