BANDA ACEH Dewan Kesenian Aceh (DKA) merasa prihatin dan kecewa terhadap pengelola UPTD Taman Budaya Banda Aceh yang tidak memberikan penjelasan kepada pihak panitia pameran lukisan saat aksi protes dengan membakar lukisan di halaman gedung taman itu, Selasa, 25 April 2017.
Kekecewaan saya mungkin terhadap Kepala Taman Budaya. Karena sedikit pun tidak mau turun (ke lokasi) pada waktu kejadian kemarin itu. Walaupun sudah berkali-kali ditelpon, juga tidak diangkat. Padahal, saya ingin beliau langsung turun di lapangan mengklarifikasi semua kejadian, di mana kesalahpahamannya, kata Ketua DKA Nurmaida Atmaja, Kamis, 27 April 2017.
Sebelumnya, para seniman melakukan aksi protes terhadap manajemen UPTD Taman Budaya Banda Aceh dengan membakar beberapa lukisan sebagai bentuk kekecewaan. Sebab, ketika para seniman seni rupa menggelar pameran lukisan, hari yang sama juga dilaksanakan perpisahan siswa SMA Negeri 11 Banda Aceh. (Baca: Protes Acara di Taman Budaya, Para Seniman Membakar Lukisan)
Saat pembukaan pameran pada 22 April 2017, Nurmaida mengatakan kepada Kabid Destinasi Disbudpar Aceh Dedi Fahrian terkait kondisi acara yang bentrok dengan perpisahan sekolah hari itu.
Saya bersama Pak Dedi, Kabid Pengembangan Disbudpar kemarin itu, mewakili kepala dinas untuk membuka acara tersebut. Saya juga sudah menceritakan, juga Pak Dedi melihat langsung kondisi pembukaan acara pembukaan seni rupa kemarin itu, kata Nurmaida.
Akhirnya ya begitu besoknya, para seniman ini memang merasa sudah terhina sekali ya dengan tingkah anak-anak SMA. Dia merasa dia sudah memakai gedung, sudah membayar, jadi bisa bertingkah seenaknya. Jadi, laporan kepada saya kemarin juga anak-anak SMA itu malah berjoget-joget di arena seputaran pameran tersebut, sampah juga berserakan di sana, kata dia lagi.
Nurmaida menyebut kondisi saat itu sangat memprihatinkan, karena seniman sudah terusir dari “rumah mereka sendiri”.
Kemarin itu koordinator lapangan acara Agam, sudah koordinasi juga dengan kepala Taman Budaya. Agam itu memohon, katanya pak bagaimana ini, bisa tidak kalau anak SMA itu masuknya dari pintu samping saja, kan gitu. Biar acara di lobi pameran ini tidak terganggu, kata Nurmaida.
Tetapi mereka tidak mendapat jawaban yang baik dari kepala Taman Budaya, jawabannya tetap nggak bisa, mereka sudah bayar. Artinya, ini apa, gedung itu diprioritaskan gedung itu siapa yang duluan sudah bayar, itu dulu. Jadi, seniman, ketika ingin memakai gedung, karena seniman tidak bayar, silakan seniman pinggir dulu, katanya lagi.[]



