Karya Taufik sentana*

Keping Hatiku :

“ini adalah jalan keindahan. Kepadamu hatiku terpaut. Musim bunga telah kita lewati. Awan redup dan cerah adalah suatu tabiat. Janganlah engkau sangsi. Sebab cinta yang kita yakini bukanlah metafora. Tapi cinta yang  bertahta pada Kaidah Maha Raja dengan selendang pengabdian dan ketundukan”.

Keping Hatimu:

Perasaan dan bayang bayang seakan terus memberi isyarat. Keping hatimu memang takkan menjauh. Ia telah takluk pada rindu yang pertama. Rindu yang menyingkap bahasa termurni dari jiwa. Dan dua jiwa itu telah sama sama menjadi sayap doa. Doa putih yang telah melewati mentari sore.
” Dan dua keping hati ini akan kita sandingkan pada kelana keabadian, ranum menjuntai di tangkai ma'rifat”.[]

*Peminat prosa, banyak bereksperimen pada puisi dan tulisan eksistensial.