Sangat banyak peristiwa sejarah yang terjadi dalam bulan Dzulqa’dah, di antaranya Baiat Aqabah 1 (12 kenabian). Di mana Rasulullah telah menepati janjinya pada musim itu kepada 12 laki-laki dari kaum Anshar. Pada bulan ini, orang dari suku Khazraj dan 3 orang dari suku Aus. Dan Rasulullah mengutus Musha'b bin Umair bersama Abdullah bin Ummu Maktum ke Madinah untuk mengajarkan Alquran di kota baru.

Di samping itu juga dalam bulan Dzulqa’dah terjadi perang Bani Quraidzah, dari suku Yahudi (5 H). Perang ini terjadi setelah perang Khandaq, sebelum Rasulullah melepaskan baju perangnya. Juga pada bulan ini sosok Abu Musa al-Asya'ri, Muadz bin Jabal diutus ke Yaman (10H).

Secara singkat kejadian lainnya pada bulan Dzulqa’dah yaitu: pertama, peristiwa al-Farad (yakni perkemahan di Syam, Irak dan jazirah), pada saat itu pasukan Romawi dan Persia, suku-suku Tagleb, alat pelempar dan macan, mereka semua diserang oleh Khalid bin Walid dan mereka banyak mati terbunuh (12H/634).

Kedua, Muawiyah bin Abi Sufyan menjadi Khalifah (37 H). Ketiga, perang Malazkard (26/8/1071 M) di mana kaum muslimin Saljuk di bawah pimpinan Alp Arselan berhasil merebut kota suci dari Kaisar Romanus. Di sinilah kemenangan kaum muslimin dengan menghapuskan kekuasaan Byzantium dan kemudian mendirikan kerajaan Islam di Asia kecil.

Kita mengetahui bahwa bulan Dzulqa`idah adalah awal bulan haji yang kemuliaannya disebutkan oleh Allah SWT dalam kitab-Nya yang mulia. Bahkan dalam hal ini para ulama juga telah menyebutkan kelebihan bulan tersebut dalam banyak karangannya. Salah satu di antara kelebihan tersebut sebagaimana disebutkan oleh Sayyid Ibnu Thawus.

Beliau meriwayatakan bahwa bulan Dzulqa`idah adalah bulan diijabahnya doa, khususnya bagi orang yang sedang kesulitan. Tentang keutamaan bulan Dzulqa'idah, Rasullullah saw bersabda: “Barangsiapa yang melakukan shalat sunnah di dalamnya, maka taubatnya diterima, dosa-dosanya diampuni, musuh-musuhnya ridha pada hari kiamat, matinya dalam keadaan beriman, agamanya tidak dicabut darinya, kuburnya diluaskan dan diterangkan, kedua orang tuanya diridhai dan dosa mereka diampuni oleh Allah, rizkinya diluaskan, sakrakatul mautnya dikasihi oleh Malaikat dan ruhnya dicabut dari jasadnya dengan mudah.”[]