Banyak ragam dan metoda dalam mencipta serta mengapresiasi puisi.Diantaranya berdasarkan pendekatan tematik, struktur dan aliran. Setiap karya sastra, juga puisi, memiliki atau membentuk karakter zamannnya sendiri. Semisal,   Khairil, Sapardi, Sutardji, Emha, Aprizal Malna atau Joko Punirwo.

Di forum yang kecil ini, penulis ingin mengetengahkan pendekatan eksprimentalia pada khalayak sebagai langkah konkret mengapresiasi puisi secara personal dan mandiri. Sejatinya setiap puisi terikat oleh prosedur dan teknik sendiri. Tapi sang penyair juga bebas mengeksplorasi setiap kata dengan abstraksi dan persepsi baru serta menjadi medium ekspresi prihal gejala, peristiwa dan waktu.

Secara harfiah, eksprimen berarti mencoba. Sedangkan eksprimentalia pada puisi bukan bermakna “coba-coba” saja. Tapi memperdalam dan mengembangkan terus berdasarkan pengalaman batin dan pengalaman tekstual-akademik dengan menggunakan “kata” sebagai alat ungkap dan simbol ekspresi. Tanpa mengesampingkan nilai estetis, makna dan nilai jual karya tersebut.

Pendekatan ini diperlukan sebagai pembuka jalan bagi siapa pun yang pernah menganggap puisi sebagai bakat murni. Sehingga dengan eksprimentalia pada puisi, setiap kita bisa memadu-padan setiap kata dan meraciknya serta menyajikannya dengan ragam nuansa yang khas.

Berikut Contohnya:

Hanyutlah!
diam,
sendiri, 
hilang.
Menepi
mengukur bayang.
Reda
pada waktunya
atau sirna! (hanyut dan sirna, 2000-2019)

Berikut contoh kedua:

Sore yang berdebu
atau penuh asap.
Sesak oleh cita lama
atau harap yang lapuk.
Dan senja menanti pasti
menyimpan pucuk sepi
dengan isyarat kembali
penuh insaf. (insaf, 2019:Password Kebahagiaan).[]

Taufik Sentana
Memilih setia pada kata kata sejak 1994.
diantara improvisasinya adalah, eksprimentalia puisi, puisi cepat saji dan puisi dalam tiga jam. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kelayakan puisi, memperluas segmen dan bahkan nilai jual.