MANUSIA dahulu sangat berkiblat kepada pencapaian akademik. IQ ditemukan oleh Alfred Binet pada tahun 1905 hingga anak-anak yang tinggi IQ nya menjadi  matlamat dan impian semua ibu-bapak. Anak-anak dipaksa belajar supaya mendapat pekerjaan yang menjamin masa depan. Namun kemudian manusia dikejutkan dengan penemuan kecerdasan ke dua yaitu EQ yang istilahnya diperkenalkan oleh Daniel Goleman pada tahun 1995.

Daniel Goleman menjelaskan tidak cukup hanya memiliki IQ tinggi tetapi perlu pandai bergaul dan memahami sekeliling barulah mampu mencipta kejayaan. IQ dan EQ, kedua-dua ini menjadikan manusia berjaya namun jiwa hampa. Masyarakat jadi tertekan dan rosak. Lahirlah banyak manusia berjaya secara material tetapi derita kerana kekosongan jiwa. Akhirnya ditemukan pula kecerdasan ketiga itu SQ yang diperkenalkan oleh Danah Zohar. Manusia yang kehilangan makna hidup, cuba diyakinkan kepada keperluan makna kehidupan iaitu spirituality untuk mendapatkan kebahagian dan berjaya di era ini.

Namun bahayanya, dia membawa kecerdasan SQ yang boleh dicapai tanpa pegangan agama. Di sinilah ESQ lahir untuk menyelamatkan kepincangan ini. Ketiga kecerdasan iaitu IQ, EQ dan SQ digabungkan dan dibawa kepada asas hidup manusia iaitu mengabdi kepada Allah. Dengan Rukun Islam, Rukun Iman dan Ihsan dari hadis Jibril, Dr Ary Ginanjar menulis buku dan menyusun modul yang sehingga kita telah diikuti lebih dari 1 juta manusia di seluruh dunia. Berbagai perubahan positif telah dirasaikan oleh mayoritas dari kebanyakan peserta. Mereka lebih dekat dengan agama dan lebih cinta kepada Islam.

Di dalam buku ESQ, Dr Ary Ginanjar membuat sebuah Model yang diberi nama ESQ Model yang menggabungkan 3 kecerdasan manusia iaitu IQ, EQ dan SQ melalui kesepaduan 6 Rukun Islam, 5 Rukun Iman dan Ihsan. Kesemua istilah yang digunakan di dalam Model itu menggunakan bahasa Inggeris kerana niat Dr Ary Ginanjar yang mahu membawa nilai-nilai Rukun Islam, Iman dan Ihsan ke persana antarabangsa dan menjadi solution masalah dunia. Terutama di bidang Pembangunan Sumber Manusia(Human Resourse) yang selama ini dikuasai barat. Namun Dr Ary Ginanjar waktu itu mengalami kesukaran untuk mencari istilah bahasa Inggeris yang sesuai untuk menterjemah perkataan Fitrah yang diletakkan di tengah ESQ Model.

Ada Tuduhan yang mengatakan Islam yang dibawa oleh ESQ adalah Islam yang diperbaharui dan bukan Islam sebenar seperti yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW adalah tidak benar dan tidak mempunyai sebarang sandaran dan bukti. Jika tuduhan ini benar, pastilah ESQ sudah lama ditolak oleh rakyat Malaysia dan tidak ada mufti yang akan menyokong dan sama-sama berusaha menjelaskan segala kekeliruan yang timbul silih berganti. Mana mungkin ajaran Islam berlainan dari apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW akan dibenarkan oleh Majlis Muzakarah Fatwa Kebangsaan yang bersidang 7 kali membahaskan kandungan dan intipati ilmu ESQ dan akhirnya membenarkan ESQ terus berjalan di Malaysia.

Islam yang disampaikan oleh Ary Ginanjar adalah dari ilmu Islam yang sangat asas yaitu Rukun Islam, rukun Iman dan Ihsan. Apa yang mungkin boleh dianggap baru hanyalah metode atau kaedah menyampaikannya yang penuh halus, hikmah, moden dan indah. Tidak seperti yang sering dilakukan oleh segelintir pendakwah yaitu kaku, bosan, menghukum, menghina dan merendahkan orang lain yang tidak sependapat dengannya atau yang menolak dakwahnya.

ESQ masuk ke syarikat-syarikat gergasi dunia seperti Petronas, Sime Darby, Pertamina dan lain-lain lagi yang selama ini Pengurusan Sumber Manusia mereka adalah kebanyakannya dari acuan barat.Kemunculan “kecerdasan ke tiga (SQ)” ternyata cukup mendapat sambutan dan antusiasme dari kalayak Indonesia yang tampaknya sedang dan selalu menanti pengakuan terhadap spiritualitas dari dunia (diskursus) Barat.

Tulisan tentang SQ marak di media-media, selain rangkaian seminar atau kursus tentang hal ini. Marilah kita lihat sejarah perkembangan SQ yang “menghebohkan” tersebut. SQ lahir tidak terlepas dari perkembangan sain dan teknologi yang telah membuat ruang dan waktu menjadi seolah tidak lagi menjadi soal dalam melakukan aktivitas apa saja yang diinginkan.

Pada bagian awal abad kedua puluh, IQ pernah menjadi isu besar. Kecerdasan intelektual atau rasional adalah kecerdasan yang digunakan untuk memecahkan masalah logika maupun strategis. Para psikolog menyusun berbagai tes untuk mengukurnya, dan tes-tes ini menjadi alat memilah manusia ke dalam berbagai tingkatan kecerdasan, yang kemudian lebih dikenal dengan istilah IQ (Intellegence Quotient), yang katanya dapat menunjukkan kemampuan mereka.

Menurut teori ini, semakin tinggi IQ seseorang, semakin tinggi pula kecerdasannya.Pada pertengahan 1990-an, Daniel Goleman mempopulerkan penelitian dari banyak neurolog dan psikolog yang menunjukkan kecerdasan emocional (EQ) sama pentingnya atau lebih penting dari kecerdasan intelektual. EQ memberi kesadaran mengenai perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain. EQ memberi rasa empati, cinta, motivasi, dan kemampuan untuk melengkapi atau kegembiraan secara cepat. EQ juga merupakan persyaratan dasar untuk menggunakan IQ secara efektif.

Pada akhir abad kedua puluh, Danah Zohar seorang psikolog, yang juga pakar fisika, filsafat dan theologi bersama suaminya Ian Marshal, seorang psikiater, psikoterapis mngenalkan jenis kecerdasan baru yang disebutnya dengan istilahspiritual intellegence, disingkat SQ. Menurut Zohar IQ dan EQ, terpisah atau bersama-sama, tidak cukup untuk menjelaskan keseluruhan kompleksitas kecerdasan manusia dan juga kekayaan jiwa serta imajinasinya.

SQ sebagai kecerdasan tertinggi manusia merupakan landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Jadi idealnya kata zohar, ketiga kecerdasan dasar tersebut bekerdasan dasar tersebut bekerja sama saling mendukung, karena otak manusia dirancang agar mampu melakukan hal ini.[]