JAKARTA – Wakil Ketua DPR, Fadli Zon menilai, rezim yang berkuasa saat ini terkesan kurang mengerti sejarah. Pasalnya, ada bagian dari pemerintah yang menyebut hanya Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah yang berperan besar bagi perjuangan bangsa.
Fadli memang tidak mengatakan siapa pejabat yang dimaksud. Namun beberapa waktu terakhir, ucapan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian terkait sumbangsih NU dan Muhammadiyah bagi kemerdekaan Indonesia, viral di media sosial.
“Pemerintahan sekarang kurang mengerti sejarah. Termasuk mengatakan hanya NU dan Muhammadiyah (yang berjasa bagi kemerdekaan Indonesia, red). Tak ada mengatakan Sarekat Islam atau organisasi-organisasi Islam lain. Ini satu refleksi, kalau pemimpin kurang mengerti sejarah, berbahaya,” ujar Fadli Zon di Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) I Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), di Jakarta, Sabtu (3/2).
Selain itu, Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra ini juga menangkap kesan relasi pemerintah dengan umat Islam belakangan ini semakin jauh.
“Karena itu, ketika teman-teman KAMMI mengangkat tema 'Arah Baru Indonesia' pada Mukernas kali ini, saya kira itu sangat tepat,” ucapnya.
Fadli juga menyoroti sejumlah kebijakan pemerintahan belakangan ini yang terkesan kurang berpihak pada rakyat kecil.
Bank Dunia beberapa waktu lalu merilis 37 persen anak Indonesia yang berusia di bawah lima tahun kekurangan gizi.
“Ini terburuk di dunia. Apa yang terjadi tidak hanya di Asmat, tapi juga ditemukan di Jakarta. Pemerintah juga bilang ada swasembada pangan, tapi kenyataannya terus impor jagung, kedelai, garam,” katanya.
Fadli kemudian mengingatkan pemerintah, agar konsep kedaulatan pangan jangan hanya menjadi retorika. Namun diwujudkan secara nyata.
“Kedaulatan jangan hanya retorika yang sama sekali tak terbukti. Urusan pangan tak selesai, makin lama makin jauh,” pungkas Fadli.[] Sumber: jpnn.com




