SETIAP rakyat di suatu negara atau daerah tentu akan selalu mendambakan pemimpin ideal yang adil dan bertanggung jawab melaksanakan kewajiban-kewajibannya serta memenuhi setiap hak rakyat.
Akan tetapi, pemimpin yang didambakan tersebut bukan sesuatu yang lahir begitu saja tanpa diusahakan. Pemimpin ternyata juga sangat tergantung pada kualitas rakyat yang dipimpinnya. Jika perilaku rakyat kesehariannya jauh dari ajaran agama, tidak melahirkan ketaqwaan dan keimanan, tidak taat beribadah dan ingkar terhadap perintah-Nya, siap-siap saja rakyat tersebut diberikan pemimpin yang zalim oleh Allah swt.
Demikian antara lain disampaikan Tgk. H. Faisal Hasan Sufi (Pimpinan Pondok Pesantren Taufiqurrahman Tgk. Chik Di Pante Geulima, Meureudu, Pidie Jaya) saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Rabu (1/2/2017) malam.
“Pemimpin yang akan kita dapatkan di tengah-tengah umat Islam adalah sesuai dengan kadar ketakwaan dan amar makruf nahi munkar yang dilakukan rakyatnya. Pemimpin adalah cerminan rakyatnya. Pemimpin yang baik hanyalah untuk rakyat yang baik, dan pemimpin yang buruk hanyalah untuk rakyat yang buruk,” ujarnya.
Tgk. Faisal Hasan Sufi menyebutkan, jika masyarakat di suatu negeri menginginkan pemimpin untuk mereka yang terbaik dan adil sesuai dengan ajaran Islam, hal yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah rakyatnya harus baik dulu dan selalu bertakwa kepada Allah.
Untuk memperbaiki masyarakat, hendaknya jangan fokus ke pemimpin saja. Bisa jadi, adanya penguasa yang zalim itu adalah hukuman yang diberikan Allah untuk rakyat yang zhalim juga karena terus menerus berkubang bermaksiat.
“Jika ingin pemimpin kita baik, yang harus dilakukan adalah rakyatnya takwa pada Allah. Selalu ber-amar makruf nahi munkar sesuai perintah Allah, taat beribadah, tingkatkan keimanan, selalu menghindari perbuatan maksiat, maka akan diberi pemimpin yang terbaik. Pemimpin zalim hukuman untuk rakyat yang ingkar pada Allah,” terang Tgk. Faisal yang juga memimpin Pesantren Darul Hikam Banjar, Jawa Barat ini.
Da'i yang kerap mengisi sejumlah pengajian dan ceramah safari subuh di Aceh serta aktif melakukan kegiatan dakwah di luar daerah hingga ke luar negeri ini juga mengutip firman Allah swt. tentang pemimpin dalam surat Al-An'am ayat 129 yang artinya, Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi penguasa untuk memimpin bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.“
Menurutnya, jika ingin menyalahkan jeleknya kepemimpinan pemimpin, rakyatnyalah yang lebih dahulu mengintrospeksi diri.
Ini hikmah Allah swt. dalam keputusan-Nya memilih para raja, pemimpin, dan pelindung umat manusia adalah sama dengan amalan rakyatnya, bahkan perbuatan rakyat seakan-akan adalah cerminan dari pemimpin dan penguasa mereka. Jika rakyat lurus, maka akan lurus juga penguasa mereka. Jika rakyat adil, maka akan adil pula penguasa mereka. Namun, jika rakyat berbuat zalim, maka penguasa mereka akan ikut berbuat zalim. Jika tampak tindak penipuan di tengah-tengah rakyat, maka demikian pula hal ini akan terjadi pada pemimpin mereka. Jika rakyat menolak hak-hak Allah dan enggan memenuhinya, maka para pemimpin juga enggan melaksanakan hak-hak rakyat dan enggan menerapkannya. Jika dalam muamalah rakyat mengambil sesuatu dari orang-orang lemah, maka pemimpin mereka akan mengambil hak yang bukan haknya dari rakyatnya serta akan membebani mereka dengan tugas yang berat. Berdasarkah hikmah Allah, seorang pemimpin yang jahat dan keji hanyalah diangkat sebagaimana keadaan rakyatnya,” terangnya.
Untuk itu, Tgk. Faisal Hasan Sufi mengajak umat Islam di Aceh dan Indonesia pada umumnya untuk bisa selalu memperbaiki diri sendiri dahulu sehingga Allah akan menganugerahkan pemimpin yang baik.
Seperti halnya kehidupan umat Islam di zaman Rasulullah saw. yang sangat luar biasa hebat dan kuat. Iman mereka masuk dalam sanubari, patuh taat lahir batin kepada Allah dan Rasul-Nya, ilmu-ilmu dikuasai dan diajarkan, amal ibadah sangat bagus, serta akhlak sangat baik.
Akibatnya, mereka menjadi umat terbaik dengan sebutan “kuntum khaira ummatin ukhrijat linnas, takmuruna bil makruf” yang menjadi contoh bagi kehidupan manusia secara luas.
Ia juga menyampaikan, ada sejumlah masalah besar yang menyebabkan kehebatan umat Islam tertutup hingga tidak muncul lagi di akhir zaman ini.
Seperti karena lemah iman, perbedaan pendapat yang sangat tajam di kalangan ulama, berpecah belahnya umat menjadi berbagai macam aliran, kebodohan yang menyebabkan tertinggal. Padahal, dulu orang Islam pemilik ilmu dan sekarang jadi pengekor.
Selanjutnya, umat Islam tidak memahami hakikat agama yang mereka pikir semacam kebudayaan atau adat dan yang meyakini kebenaran agama dianggap fanatik atau radikal, kemiskinan di tengah umat walau sumber daya alam melimpah, tapi tak bisa dimanfaatkan.
Umat Islam jadi tertinggal di belakang dan terjajah jiwanya karena kehebatan umat lain sehingga kagum luar biasa pada mereka. “Suatu bangsa akan tertakluk oleh bangsa yang maju. Bukan secara fisik, tapi jiwa. Kita hari ini umat Islam merasa terjajah alam pemikiran, penjajahan di bidang politik, ekonomi sangat terjajah, penjajahan bidang pendidikan, dan lainnya,” ungkapnya.
Tgk. Faisal menyerukan untuk lahirnya generasi beriman guna menyelesaikan masalah lewat regenerasi kader Islam serta menjauhi segala bentuk perpecahan ulama yang membingungkan umat. Berlapang-lapang terhadap hal yang khilafiah, jangan terlalu ngotot dengan kejumudan.[] (*sar)

