MEUREUDU – Mantan fasilitator Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk gempa Gayo Jasmi Ilyas, S.T mengatakan, pendataan fisik gempa di Pidie, Pidie Jaya, dan Kabupaten Bireuen harus ditangani secara cepat, agar data jumlah dan jenis kerusakan lebih valid. Jika telat katanya, dikhawatirkan data dapat berubah dengan jumlah kerusakan yang 'membengkak'.

“Kalau data dilakukan cepat, akurasinya lebih tepat. Kalau lama bisa terjadi penambahan kerusakan karena lemahnya data awal,” kata Jasmi Ilyas kepada portalsatu.com di Meureudu, Sabtu, 10 Desember 2016.

Jasmi mengatakan, biasanya bantuan hanya diberikan kepada rumah hunian tetap, dan bukan pada bangunan yang belum jadi.

“Biasanya rumah yang belum ditempati itu tidak dibantu, namun karena pendataan telat, bisa saja harus dibayar karena alasan berbagai macam pemiliknya,” ujar lulusan Universitas Islam Indonesia (UII) Jogyakarta ini.

Jasmi berharap, untuk musibah gempa Pidie, pendataan harus segera dilakukan untuk kepastian koordinat rumah dan kondisi fisik awal rumah. Pengalaman pada Gempa Gayo dulu kata dia, pendataan baru dimulai dua bulan pascagempa, sehingga pada pelaksanaan rehab rekon terjadi banyak penambahan bangunan yang rusak.

Selain itu, pendataan lebih cepat akan sangat membantu dalam pengajuan anggaran, dan tidak berulang kali pengajuannya.

“Pengajuan gempa Gayo itu baru selesai dalam 3 tahun, karena 2 kali penganggaran,” demikian kata alumni SMA Negeri 1 Samalanga ini.[]