LHOKSEUMAWE Ketua DPR Aceh Tgk. Muharuddin ikut membintangi film dokudrama berjudul Sultan Al-Malik Ash-Shalih; Samudra Pasai di Bawah Curahan Cahaya Langit. Pengambilan gambar untuk film yang digarap oleh rumah produksi Glamour Pro Banda Aceh itu dimulai, Selasa, 13 September 2016.
Film ini perpaduan dokumenter dan drama, jadi mendramakan ulang, ujar Irfan M. Nur dari Glamour Pro Banda Aceh kepada portalsatu.com di Lhokseumawe, Rabu, 14 September 2016, sore.
Menurut Irfan, ditargetkan proses pengambilan gambar film dokudrama itu di lokasi bekas pusat Kerajaan Islam Samudra Pasaikawasan Samudera, Aceh Utara sekarang dan sekitarnyaakan tuntas dalam sebulan.
Kemarin (Selasa) kita sudah melakukan pengambilan gambar Tgk. Muhar dan Haji Uma sebagai narator untuk dokumenter. Selanjutkan akan disusul proses pengambilan gambar narator lainnya, ujar Irfan.
Irfan menyebut tim juga sudah melakukan pengambilan gambar kunjungan Tgk. Muhar dan Haji Uma ke Kompleks Makam Ratu Nahrisyah di Kuta Krueng, lalu Kompleks Makam Batee Balee, Blang Me, dan Makam Sultan Malikussalah di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, Aceh Utara. Kunjungan itu dipandu Ramlan Yunus, kontributor penelitian sejarah Samudra Pasai. (Baca: Ketua DPRA Main Film Samudra Pasai di Bawah Curahan Cahaya Langit)
Tim pembuatan film tersebut akan melakukan reka ulang sebagian peristiwa sejarah Kerajaan Islam Samudra Pasai. Menurut Irfan, sebagian peristiwa sejarah yang akan direka ulang ialah tentang kunjungan penjelajah asal Maroko Ibnu Baththuthah ke Kerajaan Islam Samudra Pasai tahun 746 hijriah (1346 masehi).
Ibnu Baththuthah menyebut kota Samudra Pasai dengan nama Sumuthrah. Di kota ini, ia bertemu dengan Sultan Al-Malik Azh-Zhahir serta para pemuka kerajaan lainnya. Ia menulis laporan kunjungannya dalam buku yang diberi judul: Tuhfatul Anzhar atau lebih dikenal dengan Rihlah Ibnu Baththuthah.
Kurang lebih setengah abad sebelum kunjungan Ibnu Baththuthah, sebuah kerajaan Islam telah didirikan oleh seorang yang bergelar Sultan Al-Malik Ash-Shalih. Ia wafat di penghujung abad ke-7 hijriah, dalam bulan Ramadhan tahun 696 atau 1297 masehi. Nisan makamnya yang hari ini terdapat di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, memuat epitaf yang memberitahukan tentang kepribadian pendiri Kerajaan Islam terkenal ini.
Irfan mengatakan, dalam film dokumenter drama itu, Tgk. Muharuddin akan memerankan sosok Sultan Al-Malik Azh-Zhahir dan berdialog menggunakan bahasa Arab. (Baca: Berbahasa Arab, Tgk Muharuddin Perankan Sosok Sultan Malik Azh-Zhahir)
Dalam film dokumenter itu, Ketua DPR Aceh Tgk. Muharuddin juga menyampaikan pandangannya tentang sosok Sultan Al-Malik Ash-Shalih atau Al-Malikus Shalih, pendiri Kerajaan Islam Samudra Pasai. Masyarakat Aceh selama ini menyebut nama sultan tersebut Malikussaleh. (Baca: Ini Pernyataan Ketua DPRA Tentang Sosok Malikussaleh yang Difilmkan)[]




