Gambar di atas adalah kegiatan menari Likok Pulo di Pulau Nasi, tempat lahirnya tari tersebut. Direkam oleh Lodins LA, Discover Studio, September 2016, disiarkan oleh Portalsatu.com.

Laman wikipedia.org mengabarkan, tari Likok Pulo adalah sebuah tarian tradisional yang berasal dari Aceh, Indonesia. “Likok” berarti gerak tari, sementara “Pulo” berarti pulau. Pulo di sini merujuk pada sebuah pulau kecil di ujung utara Pulau Sumatera yang juga disebut Pulau Breuh, atau Pulau Beras (menurut data yang saya redaksi terima, asal tari ini di Pulau Nasi, bukan di Pulo Breueh (Pulau Beras) sebagaimana disebutkan wikipedia).

Tarian ini lahir sekitar tahun 1849, diciptakan oleh seorang ulama tua berasal dari Arab (redaksi menemukan bahwa tari likok ada kesamaan dengan beberapa tari di Timur tengah yang bersumber dari budaya Ottoman, bukan jazirah Arab) yang hanyut di laut dan terdampar di Pulo.

Tari ini diadakan sesudah menanam padi atau sesudah panen padi, biasanya pertunjukan dilangsungkan pada malam hari bahkan jika tarian dipertandingkan dapat berjalan semalam suntuk sampai pagi. Tarian dimainkan dengan posisi duduk bersimpuh, berbanjar, atau bahu membahu.

Seorang pemain utama yang disebut cèh berada di tengah-tengah pemain. Dua orang penabuh rapa'i berada di belakang atau sisi kiri dan kanan pemain. Sedangkan gerak tari hanya memfungsikan anggota tubuh bagian atas, badan, tangan, dan kepala.

Gerakan tari pada prinsipnya ialah gerakan oleh tubuh, keterampilan, keseragaman atau kesetaraan dengan memfungsikan tangan sama-sama ke depan, ke samping kiri atau kanan, ke atas, dan melingkar dari depan ke belakang, dengan tempo mula lambat hingga cepat.[]