PRO dan kontra mengenai penggunaan jilbab bagi perempuan Aceh masa lalu terus bergulir. Lebih-lebih, pasca terbitnya uang Rupiah baru yang mencantumkan gambar Cut Nyak Meutia di pecahan Rp 1.000 beberapa waktu lalu. 

Ada yang mempermasalahkan gambar tersebut lantaran Cut Nyak Meutia di Rupiah baru ini tidak menggunakan jilbab. Ada pula yang lebih fokus pada pertanyaan siapa sebenarnya perempuan yang ada di lembaran Rp1000 itu: Cut Meutia atau bukan?

Sejatinya, permasalahan menjilbabkan gambar para pahlawan Aceh sudah terjadi jauh-jauh hari. Tidak hanya untuk Cut Nyak Meutia, gambar Cut Nyak Dhien yang kerap mengisi buku-buku sejarah di sekolah juga dipermasalahkan karena tidak berjilbab. Padahal, secara umum diketahui Kerajaan Aceh Darussalam sudah menyatakan diri sebagai kerajaan Islam yang tunduk di bawah vasal Turki sejak abad 15. Lalu kenapa banyak gambar para perempuan pahlawan Aceh yang beredar saat ini tidak dijilbabkan?

Menjawab hal ini, ada baiknya kita melihat bagaimana sebenarnya trend pakaian wanita Aceh masa lalu. Hal ini bisa dilihat dari sejumlah foto yang diabadikan Belanda dalam tropenmuseum.nl dan KITLV.NL. Dari sejumlah foto yang diriset memperlihatkan, umumnya para wanita Aceh–baik bangsawan atau masyarakat biasa–menggunakan kain penutup kepala dan sama sekali tidak memperlihatkan aurat. Ini jelas berbeda dengan lukisan-lukisan ilustrasi para pahlawan perempuan asal Aceh yang beredar selama ini. Padahal, diketahui mayoritas pahlawan perempuan Aceh itu merupakan keturunan bangsawan.[]