BANDA ACEH – Anak-anak itu terlihat bersemangat. Mereka datang dalam tiga kelompok, dibawa oleh guru dan keluarga mereka.

Setelah semua datang, mereka berjumlah sembilan orang, tujuh orang perempuan dan dua orang laki-laki. 

Dalam tiga angkatan sebelumnya, yang kutangani para mahasiswa. Baru kali ini kutangani anak usia SD untuk melatih mereka menulis. Sekira belasan tahun lalu ada kutangani anak anak di Paloh Dayah, Teluk Samawi (Lhokseumawe), tapi untuk membaca Alquran dan kitab Jawi. Tahun lalu kuhadiri bincang cara mengajarkan anak-anak menulis, artinya bukan aku tapi para Rumah Relawan Remaja yang mengajarkan anak-anak. Aku cuma memberikan beberapa saran kepada para relawan itu.

Kali ini, aku yang tangani sendiri. Ini pun bukan ideku tapi ide Zahraini, seorang yang suka pendidikan sejak kecil. Ia menyiapkan segala sesuatu untuk pelatihan itu. Yang ideku tahun tahun lalu, tapi batal. Begitu ia mengusulkan untuk mengajar anak SD menulis, aku langsung setuju, teringat rencana serupa tahun tahun lalu yang belum jua terlaksana. Berarti ini kesempatannya. Dan, kuminta Zahraini mencari anak anak yang sesuai sebagai peserta.

Setelah semua anak-anak itu mengisinya formulir data dirinya, maka kukatakan kepada mereka, bahwasanya menulis itu mudah. Hanya satu kalimat itu yang kukatakan, dan untuk membuktikan itu, kuminta mereka menulis pengalaman mereka hari ini, dari bangun tidur sampai ke kelas menulis Sekolah Hamzah Fansuri di stan Pedir Museum.

Dan, mereka pun menulis, ada yang dua halaman, satu halaman, dan ada yang setengah halaman.

Mereka membuktikan sendiri bahwasanya menulis itu mudah, semudah menggoyangkan pena putih di tangan mereka masing masing.

Setelah mereka menulis itu, kubaca semua tulisan mereka, tanpa suara, satu persatu sampai habis. Aku harus membaca sampai habis semuanya supaya memahami apa yang mereka pikirkan.

Ternyata mereka anak-anak cerdas, dan sebagian besar sadar lingkungan. Tentu saja, dengan tulisan itu, aku mulai memahami bagaimana mereka mempelajari sesuatu. Setiap orang punya cara masing masing.

Setelah mereka makan kue dan minum yang disediakan oleh Zahraini, aku meminta anak-anak itu menulis kesan mereka tentang apa saja selama mereka berada di stan Pedir Museum, sepanjang setengah halaman. Lagi-lagi, setiap anak memiliki keunikan masing-masing.

Setelah mereka menulis itu, kuminta mereka membaca tulisan temannya, tanpa melihat dan menyebut nama yang tulis supaya yang menuliskannya tidak malu.

Setelah itu, kutanya pendapat mereka tentang menulis. Ada yang menggatakan menulis itu enak, senang, mudah, dan semacamnya.

Maka, sebelum pulang, sebagai hiburan sampai di rumah, kuminta mereka menulis pengalaman mereka yang paling berkesan, baik itu di rumah, sekolah, tempat pengajian, bermain bersama teman, dan lainnya. Terserah mereka akan menulis berapa halaman. Itu untuk dikumpulkan dan dibedah pada pertemuan hari kedua, hari terakhir. Karena cuma dua kali pertemuan, maka kupilih satu jenis tulisan untuk mereka kuasai, yaitu menulis pengalaman dan pendapat pribadi tentang apa saja. 

Sekali lagi, yang kukatakan pada mereka, dan mereka membuktikan itu, bahwasanya menulis itu mudah.

Tidak perlu mengajarkan kepada anak anak tentang teori menulis, kalau kauajarkan teori, maka kau bukan mendidik tapi membual. Kita tunggu hasil tulisan anak-anak cerdas itu besok.

Sebagaimana diketahui, Sekolah Hamzah Fansuri membuka kelas menulis di stan Pedir Museum, Piasan Seni Banda Aceh 2017, Taman Bustanussalatin, Taman Sari, Banda Aceh, 20-21 Mei 2017.

Sekolah Hamzah Fansuri adalah sekolah lepas yang dijalankan secara suka rela dan peserta dibebaskan dari belanja apapun.[]

Thayeb Loh Angen, pengurus Sekolah Hamzah Fansuri.