TAPAKTUAN – Ketua Forum Bedah Desa Nasional (FBDN) T Sukandi, berharap gubernur dan wakil gubernur Aceh terpilih periode 2017 – 2022 agar memprioritaskan program peningkatan kesejahteraan rakyat dan memacu laju pembangunan daerah secara lebih pesat dengan cara menghadirkan pabrik industri dalam daerah.

“Sudah sewajarnya kita berhenti berkonflik dan saling memusuhi. Sekarang ini mari sama – sama kita pikirkan kesejahteraan rakyat dan kemajuan pembangunan daerah, di mana salah satu program prioritas yang harus dilaksanakan gubernur dan wakil gubernur Aceh terpilih adalah segera wujudkan pabrik industri untuk mengolah hasil sumber daya alam yang melimpah,” kata T Sukandi kepada wartawan di Tapaktuan, Senin, 20 Februari 2017.

Menurutnya, Provinsi Aceh adalah salah satu daerah penghasil sumber daya alam yang luar biasa besar di Indonesia. Sayangnya selama ini kekayaan alam Aceh tersebut tidak dikelola dengan baik dan tepat.

“Artinya bahwa, Aceh hanya sebagai daerah penghasil dari sumber daya alam itu tetapi tidak bisa menjadi daerah yang mampu mengolah bahan baku mentah tersebut menjadi produk bernilai jual, sehingga bisa dipasarkan ke daerah-daerah lain di Indonesia maupun untuk kebutuhan konsumsi masyarakat lokal di Aceh itu sendiri,” papar Sukandi.

Dia mencontohkan seperti sumber daya alam karet yang diproduksi oleh para petani di Aceh. Sayangnya, produksi bahan baku mentah karet tersebut seluruhnya di kirim ke Medan, Sumatera Utara atau ada juga yang diekspor langsung ke luar negeri.

Seharusnya, kata dia, dengan produksi karet mentah yang melimpah di Aceh tersebut dapat diolah langsung menjadi produk jadi yang bernilai jual seperti produk sandal, sepatu hingga ban mobil atau ban sepeda motor.

“Kenapa selama ini tidak dibangun langsung pabrik pengolahan produk jadi tersebut di Aceh. Padahal Aceh memiliki sumber daya alam yang mampu mendukung pabrik industri tersebut. Jika dibangun pabrik industri, maka pabrik itu akan menyerap tenaga kerja sehingga dengan sendirinya menguragi pengangguran termasuk daerah juga akan mendapatkan pajak atau retribusi dari perusahaan tersebut,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Sukandi, di Provinsi Aceh juga kaya akan sumber daya alam material bijih besi. Namun sayangnya, seluruh bahan baku mentah tersebut terpaksa diekspor ke luar negeri melalui Singapura karena tidak ada pabrik industri yang mampu mengolah bahan baku mentah menjadi produk jadi.

“Kita juga memiliki lahan perkebunan sawit yang cukup luas, tapi sayangnya kita hanya mampu membangun tingkat pabrik CPO. Sedangkan untuk mengolah bahan baku sawit masih mentah tersebut menjadi produk jadi seperti minyak goreng, masih harus dikirim ke luar daerah padahal minyak goreng itu merupakan salah satu kebutuhan dasar masyarakat kita,” ungkap Sukandi.

Oleh karena itu, T. Sukandi berharap gubernur dan wakil gubernur Aceh yang akan dilantik sebagai kepala pemerintahan dan kepala daerah Aceh nantinya, agar mampu meningkatkan pertumbuhan perekonomian masyarakat serta memacu laju pembangunan daerah sehingga tidak terus jauh tertinggal dengan daerah lainnya di Indonesia.

“Kepada gubernur dan wakil gubernur Aceh ke depan, kita sangat berharap supaya dapat mewujudlkan Aceh bukan sekadar daerah penghasil sumber daya alam, tapi Aceh juga dapat menjadi daerah yang dapat memproduksi semua kebutuhan yang didasari oleh bahan baku yang bersumber dari Aceh itu sendiri,” katanya.[]