LHOKSEUMAWE – Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Lhokseumawe Tahun 2024 diprediksi akan berlangsung meriah. Perkiraan tersebut mengacu dinamika politik saat ini, sudah ada dua pasangan bakal calon (paslon) diumumkan ke publik oleh beberapa partai politik, dan diyakini akan terus bertambah hingga menjelang masa pendaftaran pada Agustus 2024.

Menyikapi dinamika politik tersebut, M.J. Khairul akrab disapa Haji Domet, tokoh pemuda Pusong Kota Lhokseumawe menyampaikan pandangannya tentang sektor perikanan yang dianggap penting mendapatkan perhatian serius wali kota terpilih ke depan.

Haji Domet berharap hal ini menjadi bahan diskusi para paslon dan timnya serta masyarakat Kota Lhokseumawe mulai sekarang. Sehingga diharapkan akan lahir wacana konkret menyangkut pengembangan potensi perikanan Kota Lhokseumawe.

“Selaku putra Kota Lhokseumawe yang lahir dan besar di pinggir laut, saya melihat Kota di tepi Selat Malaka ini punya potensi dasar yang sangat besar di sektor perikanan,” kata Haji Domet dalam keterangan tertulis, Selasa, 23 Juli 2024.

Namun, kata Domet, Pemko Lhokseumawe tampaknya belum memberikan perhatian serius untuk mengoptimalkan potensi tersebut. “Karena itu, kita berharap siapapun Wali Kota dan Wakil Wali Kota Lhokseumawe ke depan (hasil Pilkada Tahun 2024) agar melahirkan terobosan baru, sehingga dapat memanfaatkan secara maksimal potensi perikanan. Saya yakin sebagian masyarakat Kota Lhokseumawe menaruh harapan yang sama,” ujarnya.

Menurut Domet, apabila potensi perikanan dikembangkan dengan sepenuh hati akan menjadi tonggak ekonomi Kota Lhokseumawe di masa akan datang. “Selain memacu laju pertumbuhan ekonomi daerah, juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi Pemko Lhokseumawe,” tuturnya.

Mengutip data Kota Lhokseumawe Dalam Angka Tahun 2024 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS), produksi perikanan laut di Kota ini tahun 2023 mencapai 13,1 juta kilogram lebih atau lebih 13,1 ribu ton. Dari jumlah tersebut, paling banyak produksi ikan cakalang 2.148.111 kg (2.148 ton lebih), tongkol 1.522.295 kg (1.500 ton lebih), kembung 1.242.196 kg (1.200 ton lebih), kurisi 953.240 kg (953 ton), biji nangka 845.840 kg (845 ton), teri 801.247 kg (801 ton), dan tuna 541.474 kg (541 ton).

Informasi dipublikasikan Dinas Kelautan Perikanan Pertanian dan Pangan (DKP3) Kota Lhokseumawe, kata Domet, produksi perikanan tangkap tahun 2022 sebanyak 12.850.424 kg (12,8 ribu ton) dan tahun 2021 mencapai 14.615.474 kg (14,6 ribu ton).

“Produksi perikanan tangkap di Kota Lhokseumawe dalam tujuh sampai 10 tahun terakhir terus meningkat. Pada tahun 2014-2017, rata-rata produksi ikan tangkap Lhokseumawe masih pada angka 7.000-an ton/tahun,” ungkap Domet.

Domet menyebut Kota Lhokseumawe juga memiliki potensi perikanan budidaya dengan jumlah produksi mencapai ribuan ton/tahun. Selama ini perikanan budidaya di Lhokseumawe menggunakan jaring apung laut, keramba, kolam air tenang, tambak intensif, tambak sederhana, dan tambak semi intensif untuk pembesaran lele, nila, kakap, bandeng, kerapu, udang, dan ikan lainnya. Ada juga budidaya pembenihan air tawar dengan produksi lele puluhan ribu ekor, dan nila belasan ribu ekor.

Jadi, kata Domet, salah satu sektor yang memiliki peluang besar di Kota Lhokseumawe adalah perikanan. Seharusnya ini menjadi perhatian serius pemimpin Kota Lhokseumawe. “Saya yakin kalau sektor perikanan dikelola dengan sungguh-sungguh, insya Allah, ini menjadi harapan masa depan Kota ini,” ucapnya.

Masyarakat Kota Lhokseumawe, kata Domet, berharap siapapun wali kota terpilih hasil Pilkada 2024, harus mampu menarik investor untuk berinvestasi di sektor hilirisasi perikanan. “Kota ini membutuhkan industri pengolahan ikan supaya komoditas perikanan memberi nilai tambah secara ekonomi. Misalnya, pengolahan ikan tuna kaleng, abon ikan, kerupuk ikan, dan lainnya,” ungkap dia.

Domet menambahkan pengembangan industri pengolahan termasuk hilirisasi perikanan bisa memunculkan efek berganda (multiplier effect). Di antaranya, meningkatkan serapan tenaga kerja, karena sebuah industri pengolahan membutuhkan pekerja yang banyak.

“Kalau ini berjalan, kita optimis akan dapat menekan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kota Lhokseumawe yang selama ini tertinggi di Aceh. TPT Kota Lhokseumawe tahun 2022 mencapai 9,15%, sedangkan rata-rata TPT Provinsi Aceh 6,17%, dan rata-rata TPT nasional 5,86%,” kata Domet mengutip data BPS.

Data BPS, jumlah nelayan di Kota Lhokseumawe tahun 2023 sebanyak 1.007 orang. Rinciannya, Kecamatan Banda Sakti 451 orang, Blang Mangat 304 orang, Muara Satu 158 orang, dan Muara Dua 94 orang. Jumlah itu menurun dibandingkan tahun sebelumnya. “Kalau ke depan ada industri pengolahan ikan tentunya jumlah nelayan akan bertambah lagi,” ujarnya.

“Dengan adanya industri pengolahan juga akan berkembang usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) sebagai industri pendukung,” tambah Domet.

Domet menyampaikan masyarakat Kota Lhokseumawe berharap pemko di bawah kepimpinan wali kota baru ke depan lebih maksimal lagi membangun kolaborasi dengan berbagai pihak. Misalnya, Bank Indonesia (BI) Perwakilan Lhokseumawe, karena BI setiap tahun membuat kajian perekonomian daerah, dan juga dengan akademisi dan praktisi usaha.

“Sehingga dapat menghasilkan kebijakan-kebijakan yang akan mendorong tumbuhnya industri pengolahan ikan di Kota ini yang sebelah utara berbatasan dengan laut,” pungkas Haji Domet.[](ril)