BANDA ACEH – Meugang (punggahan) adalah tradisi masyarakat Aceh memakan daging lembu yang dilaksanakan setahun tiga kali yani Ramadhan, Idul Adha dan Idul fitri. Suasana meugang di Aceh sangatlah meriah, ditambah lagi masyarakat yang berduyun-duyun memadati pasar guna membeli kebutuhan meugang. Proses tersebut terjadi selama dua hari berturut-turut sebelum Ramadhan atau sebelum Hari Raya.

Meugang bersama keluarga adalah suasana yang paling dinanti-nanti. Suasana seperti ini, semua berkumpul untuk menikmati ragam hidangan daging yang dilumburi bumbu dan siap untuk disantap.

Akan tetapi suasana meugang bersama keluarga tidak dirasakan oleh Jafar (21 tahun) seorang parantau yang bekerja di salah satu warung kopi di kota Banda Aceh. Dia bercerita sedikit kesedihannya ketika ingin pulang kampung tetapi karena libur yang diberikan pihak warkop sangat singkat terpaksa kembali dia tidak bisa berkumpul dengan sanak keluarga.

Menurut Jafar, sudah empat tahun dia tidak pulang kampung halaman ketika meugang. Rasa ingin pulang pasti ada, kata dia, akan tetapi karena situasi masih bekerja sehingga rasa itu dikubur dalam-dalam.

“Lon ka peut thon hana woe gampong selama meugang. Seudeh pasti na, Bang, seubab sithon sigoe suasana lagenyoe, hawa tapajoh sie rame-rame bersama keluarga tapi karena kondisi ekonomi makajih lon merantau dari gampong,” katanya lagi.

Pemuda asal Aceh Selatan ini menjelaskan dalam menyambut meugang pihak warkop tempat dia bekerja sudah memberinya dua botol sirup dan uang untuk membeli sekilo daging, tapi menurutnya tidak menghilangkan kesedihannya untuk meugang bersama keluarganya di gampong.

Di sisi lain karyawan warkop lainnya yang rindu meugang bersama keluarga di kampung halaman yakni Dani (24 tahun). Pemuda asal Kuala Simpang ini pun mempunyai cerita demikian.

Dani menceritakan sedikit rasa sedihnya puasa bulan puasa tahun ini.

“Hawa tapajoh sie yang ditagun mak di rumoh. Saat kemerihanan hari meugang saya cuma bisa mencari masakan seperti rendang di warung-warung yang masih buka, itupun kalau ada,” ujar Dani.

Sahur dan berbuka puasa bersama di awal bulan puasa harus dikubur dalam – dalam dikarenakan libur yang diberikan pihak warkop cuma tiga hari. Jadi, katanya, sangat tidak mungkin pulang ke kampung.

Dia turut memberi salamnya kepada keluarganya di kampung halaman tepatnya di Pulau Tiga, Kuala Simpang, Aceh Tamiang.

“Hanjeut lon woe, Mak, hanjeut lon pajoh sie Mak taguen.” Seraya ia berharap semua keluarganya sehat walafiat.[]

Laporan Ramadhan