Kamis, Juli 25, 2024

Cari HP di Bawah...

Mencari HP dengan harga terjangkau namun tetap memiliki performa yang handal memang bisa...

Siswa Diduga Keracunan Selepas...

SIGLI - Jumlah siswa yang dirawat akibat dugaan keracunan setelah konsumsi nasi gurih...

Spanduk Dukungan Bustami Maju...

LHOKSEUMAWE - Sejumlah spanduk berisi dukungan kepada Bustami Hamzah untuk mencalonkan diri sebagai...

Yayasan Geutanyoe Rayakan Hari...

LHOKSEUMAWE - Yayasan Geutanyoe merayakan Hari Anak Nasional tahun 2024 bersama 227 anak...
BerandaInspirasiTeknoHidup Pintar di...

Hidup Pintar di Tengah Dunia Digital

KUTACANE – Rangkaian Webinar Literasi Digital di Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh kembali bergulir. Pada Kamis, 4 November 2021 pukul 09.00 hingga 12.00 WIB, telah dilangsungkan webinar bertajuk “Hidup Pintar di Tengah Dunia Digital”

Kegiatan masif yang diinisiasi dan diselenggarakan oleh Direktorat Pemberdayaan informatika Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo RI ini bertujuan mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif sehingga dapat meningkatkan kemampuan kognitifnya untuk mengidentifikasi hoaks serta mencegah terpapar berbagai dampak negatif penggunaan internet.

Pengguna internet di Indonesia pada awal 2021 mencapai 202,6 juta jiwa. Total jumlah penduduk Indonesia sendiri saat ini adalah 274,9 juta jiwa. Ini artinya, penetrasi internet di Indonesia pada awal 2021 mencapai 73,7 persen.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (Aptika) Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan mengatakan Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah terkait literasi digital.

“Hasil survei literasi digital yang kita lakukan bersama siberkreasi dan katadata pada 2020 menunjukkan bahwa indeks literasi digital Indonesia masih pada angka 3,47 dari skala 1 hingga 4. Hal itu menunjukkan indeks literasi digital kita masih di bawah tingkatan baik,” katanya lewat diskusi virtual.

Dalam konteks inilah webinar literasi digital yang diselenggarakan oleh Kementerian Kominfo RI ini menjadi agenda yang amat strategis dan krusial, dalam membekali seluruh masyarakat Indonesia beraktifitas di ranah digital.

Pada webinar yang menyasar target segmen mahasiswa, guru, dan siswa, dihadiri oleh sekitar 1361 peserta daring ini, hadir dan memberikan materinya secara virtual, para narasumber yang berkompeten dalam bidangnya, yakni Dr. Ir. Soni Trison, S.Hut., M.Si., Praktisi Bisnis & Dosen; Dr. Gushevinalti, M.Si., Dosen Ilmu Komunikasi dan Penggiat Literasi Digital; Hanif Aidhil Alwana, S.H., M.H., Penggiat Literasi; dan Ahmadin Damanik, Bendahara DPD IMM Bukittinggi. Rana Rayendra sebagai Key Opinion Leader (KOL) dan memberikan pengalamannya.

Para narasumber tersebut memperbincangkan tentang 4 pilar literasi digital, yakni Digital Culture, Digital Ethic, Digital Safety dan Digital Skill.

Pada sesi pertama tampil Dr. Ir. Soni Trison, S.Hut., M.Si., memaparkan sistem pembelajaran sekarang sudah mengikuti zaman, di mana belajar di era digital tidak hanya sekedar ingin tahu tetapi juga berkreasi. Dukungan pembelajaran membutuhkan peran guru yang memiliki creative teaching, peran kurikulum yang teaching for creativity, dan peran buku yang creative learning.

Giliran pembicara kedua, Dr. Gushevinalti, M.Si., menjelaskan berselancar di ruang digital mengharuskan para pengguna untuk bisa berhati-hati, terutama pada digital footprint. Digital footprint atau jejak digital bisa menimbulkan bahaya seperti menyebabkan kerugian sampai pencurian identitas.

Tampil sebagai pembicara ketiga, Ahmadin Damanik, mengatakan penting untuk diingat dengan mengedukasi sesama, jangan sembarang klik maupun enter. Jadilah cerdas, dan jangan sampai melakukan hal-hal yang bisa berdampak buruk untuk diri sendiri maupun orang lain.

Pembicara keempat, Hanif Aidhil Alwana, S.H., M.H., menuturkan pada akselerasi transformasi digital nasional yang sedang berlangsung tidak mesti secara teknis, namun juga dari psikologis, dan aspek budaya. Aspek-aspek dalam membangun budaya digital bisa dengan participation atau kontribusi masyarakat, remediation yang merupakan budaya lama ke budaya baru, dan bricolage yang memanfaatkan hal yang sudah ada untuk menciptakan hal baru.

Para peserta mengikuti dengan antusias seluruh materi yang disampaikan dalam webinar ini, terlihat dari banyaknya tanggapan dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada para narasumber. Seperti Nur Lina yang bertanya bagaimana seharusnya menjadi generasi muda yang cakap digital dan produktif namun juga menyebarkan dan meninggalkan jejak digital yang baik? Narasumber Dr. Ir. Soni Trison, S.Hut., M.Si., menanggapi jika ingin menyebarkan jejak digital yang baik, maka perlu untuk belajar kepada ahlinya langsung, atau dengan mengikuti webinar seperti ini.

Webinar ini merupakan satu dari rangkaian webinar yang diselenggarakan di Kabupaten Aceh Tenggara. Masyarakat diharapkan dapat hadir pada webinar-webinar yang akan datang.[](ril)

Baca juga: