BANDA ACEH – Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Aceh meminta kepada pemerintah jangan selalu menjadikan simbol-simbol Islam dan nabi sebagai bukti dari terorisme.

Hal itu disampaikan oleh Rahmad Ibnu Umar, Humas HTI Aceh, setelah aksi konvoi memperkenalkan bendera Al Liwa dan Al Roya di Masjid Uleelheue, Rabu, 1 Maret 2017.

“Kita ingin mengatakan kepada pemerintah bahwa jangan menjadikan simbol-simbol nabi, simbol-simbol Islam itu sebagai teroris,” kata Rahmad.

Rahmad sangat menyayangkan jika simbol-simbol tersebut selalu dikaitkan apabila terjadi terjadi kerusuhan di dalam negeri.

“Karena akhir-akhir ini kita bisa melihat ya, di media atau pun di negara kita ini, bendera dan panji sering dikriminalkan, bahkan ini dijadikan barang bukti teroris,” kata Rahmat.

“Seperti akhir-akhir ini sering diberitakan bahwa ketika ada penangkapan teroris selalu dikait-kaitkan dengan bendera yang hitam ataupun yang putih itu. Dan itu adalah sebuah kejahatan terhadap Islam dan kejahatan terhadap nabi kita Muhammad SAW. ,” katanya lagi.

Rahmad berharap dengan adanya aksi yang mereka lakukan masyarakat kembali ingat mengenai simbol-simbol Islam.

“Oya, kita umat Islam  punya bendera, kita umat Islam punya panji dan itu adalah warna hitam dan warna putih dengan kalimat Lailahahillallah Muhammadarasullullah,” katanya.

Karena itu, katanya, orang Islam juga tidak layak kalau membawa bendera ini ke dalam hal-hal jahat.

“Karena bendera ini adalah bendera kebenaran dan panji ini adalah panji kebenaran,” katanya lagi.

Sebelumnya, HTI Aceh telah melakukan aksi konvoi mengelilingi Kota Banda Aceh dalam mengkampanyekan bendera panji dan bendera nabinberwarna hitam (Al Roya) dengan berwarna putih (Al Liwa) dengan tulisan kalimat Lailahaillallah Muhammadarasullullah.[]