Di tengah arus globalisasi saat ini, pendidikan moral (akhlak) menjadi sangat penting. Salah seorang ulama yang sangat peduli dan spesialis di bidang tasawuf Imam Al-Ghazali telah merumuskan konsep tentang moral itu sendiri. Untuk memahami pandangan Al-Ghazali tentang moral dapat dilacak dari konsepnya tentang khulq. Al-Ghazali mendefisinikan kata khulq (moral) sebagai suatu keadaan atau bentuk jiwa yang menjadi sumber timbulnya perbuatan-perbuatan yang mudah tanpa melalui pemikiran dan usaha.

Adapun untuk menjelaskan pengertian jiwa, Al-Ghazali menggunakan empat istilah, yaitu al-qalb, al-nafs, al-ruh dan al-aql. Keempat isilah itu menurut Al-Ghazali memiliki persamaan dan perbedaan arti. Perbedaannya terutama bila ditinjau dari segi fisik di mana al-qalb berarti kalbu jasmani, al-ruh berarti roh jasmani dan latif, al-nafs berarti hawa nafsu dan al-aql yang mempunyai arti ilmu. Sedang persamaannya adalah bila ditinjau dari segi ruhaniah keempat hal berarti jiwa manusia yang bersifat latif rabbani yang merupakan hakikat, diri dan zat manusia. Oleh karena itu manusia dalam pengertian pertama (fisik) tidak kembali kepada Allah, namun dalam pengertian kedua (ruhaniah) kembali kepada-Nya.

Dengan demikian pengertian jiwa menurut Al-Ghazali mencakup pengertian jiwa dalam arti yang fisik yang berhubungan dengan daya hidup fisik dan jiwa yang berhubungan dengan hakikat, diri dan zat manusia yang bersifat rabbani.

Di dalam “Maarif al-Quds”, Al-Ghazali menyatakan manusia terdiri atas substansi yang berdimensi (materi) dan substansi yang tidak berdimensi (immateri) yang mempunyai kemampuan merasa dan bergerak dengan kemauan. Al-Ghazali membagi fungsi jiwa manusia dalam tiga tingkatan, al-nafs al-insaniyyat (jiwa manusia), al-nafs al-nabatiyah (jiwa vegetatif) dan al nafs al-hayawaniyyat (jiwa sensitif).

Al-nafs al nabatiyah (jiwa vegetatif) memiliki daya makan, tumbuh dan berkembang. Al-nafs al-hayawaniyyat (jiwa sensitif) memiliki daya bergerak, daya tangkap dan daya khayal. Al-nafs al-insaniyyat (jiwa manusia) memiliki daya akal praktis (al-‘amilat) dan daya akal teoritis (al-‘alimat).

Daya yang pertama berfungsi menggerakkan tubuh melalui daya-daya jiwa sensitif sesuai dengan tuntutan pengetahuan yang dicapai oleh akal teoritis.Yang dimaksud dengan akal teoritis adalah akal yang berhubungan dengan pengetahuan-pengetahuan yang abstrak dan universal.

Berdasarkan analisis terhadap hakikat jiwa, potensi dan fungsinya,  Al-Ghazali berpendapat bahwa moral dan sifat seseorang bergantung kepada jenis jiwa yang berkuasa atas dirinya. Kalau jiwa yang berkuasa nabbati dan hewani maka moral dan sifat orang tersebut menyerupai nabbati dan hewani. Akan tetapi apabila yang berkuasa jiwa insaniyyah maka orang tersebut bermoral seperti insan kamil.

Namun demikian, ditekankannya unsur jiwa dalam konsepsi Al-Ghazali mengenai moral sama sekali tidaklah berarti ia mengabaikan unsur jasmani manusia. Ia juga menganggap penting unsur ini karena ruhani sangat memerlukan jasmani dalam melaksanakan kewajibannya sebagai khalifah. Kehidupan jasmani yang sehat merupakan jalan kepada kehidupan ruhani yang baik. Dengan menghubungkan kehidupan jasmani dengan dunia ia menyatakan bahwa dunia itu merupakan ladang bagi kehidupan akhirat, maka memelihara, membina mempersiapkan dan  memenuhi kebutuhan jasmani agar tidak binasa adalah wajib.

Jadi menurut Al-Ghazali moral bukanlah perbuatan lahir yang tampak melainkan suatu kondisi jiwa yang menjadi sumber lahirnya perbuatan-perbuatan secara wajar mudah tanpa memerlukan pertimbangan dan pikiran  Dari konsep dasar ini maka untuk menilai baik buruk suatu perbuatan moral tidak bisa dilihat dari aspek lahiriahnya saja, namun juga harus dilihat dari unsur kejiwaannya. Oleh karena itu perbuatan lahir harus dilihat dari motif dan tujuan melakukannya.

Mengenai pengertian pendidikan, menurut Al-Ghazali memiliki pengertian yang sangat luas, tidak hanya menyangkut pendidikan dari segi individu, namun juga  masyarakat dan kejiwaan. Dari segi individu pendidikan baginya berarti pengembangan sifat-sifat ketuhanan yang terdapat dalam diri manusia sesuai tuntutan fitrahnya kepada ilmu dan agama. Manusia selalu ingin mengenal zat yang absolut dan  perjuangan terpenting dalam hidupnya adalah pengembangan sifat-sifat ketuhanan yang ada dalam dirinya

Pengertian pendidikan dari segi masyarakat menurut Al-Ghazali pada umumnya tidak jauh berbeda dengan yang dikemukakan para ahli pendidikan modern yang berintikan pada pewarisan nilai-nilai budaya suatu masyarakat terhadap setiap individu di dalamnya agar kehidupan budaya berkesinambungan. Perbedaannya mungkin terletak pada nilai-nilai yang diwariskan dalam pendidikan tersebut. Bagi Al-Ghazali nilai-nilai yang diwariskan adalah nilai-nilai keislaman yang didasarkan pada Alquran, hadis, atsar dan kehidupan orang-orang salaf.[]

Referensi:

1.       Yahya Jaya, Spiritualisasi Islam Dalam Menumbuhkembangkan Kepribadian Dan kesehatan Mental, (Jakarta : CV. Ruhama, 1994), hal. 37

2.       Amin Abdullah, Al-Ghazali Dan Kant: Filsafat Etika Islam, penerj. Hamzah, (Bandung: Mizan,2002)  hal. 25

3.       Busyairi Madjidi, Konsep Pendidikan Para Filsuf Muslim, (Yogyakarta: al-AminPress,1997) Cet. I hal. 86

4.       Musya Asy’ari, Islam Kebebasan Dan Perubahan Sosial ;Sebuah BungaRampaiFilsafat (Jakarta : Sinar Harapan,1984) hal. 79