MEDAN – Tokoh pers nasional, Imam Wahyudi menyerukan jurnalis menerapkan jurnalisme positif dalam pemberitaan untuk meningkatkan intelektual publik. Jurnalisme positif bukan sekadar berita akurat berlandaskan data dan fakta, juga dapat menyajikan informasi tentang solusi dari akar sebuah permasalahan serta menumbuhkan optimisme masyarakat.

Hal itu disampaikan Imam Wahyudi saat tampil sebagai pemateri media gathering digelar PT Pupuk Iskandar Muda (PIM), diikuti puluhan jurnalis dari Aceh Utara dan Lhokseumawe, di Hotel Santika Dyandra, Medan, Kamis, 5 Desember 2024.

“Menjadi seorang jurnalis yang profesional bukan sekadar menginformasikan sesuatu (menyangkut kepentingan publik). Tapi jurnalis juga harus memikirkan dampak berita yang dibuat, perlu memastikan informasi yang dipublikasikan itu (secara) bertanggung jawab, dan tidak merugikan pihak lain,” kata Imam Wahyudi yang juga mantan Anggota Dewan Pers.

Menurut Imam, tidak semua informasi itu harus diberitakan jika mengakibatkan salah penafsiran oleh publik. Misalnya, ada sebuah insiden yang berkaitan dengan ras dan agama menimbulkan konflik kecil antarkelompok tersebut. Kehadiran seorang jurnalis dalam sebuah persoalan tersebut tidak semerta-merta memberitakan seakan-akan itu peristiwa besar.

Pada dasarnya memang kejadian dimaksud sesuai fakta, tetapi jurnalis perlu mempertimbangkan dampak negatif jika berita itu dikonsumsi publik. Artinya, kata Imam, jurnalis bisa melihat sudut pandang lain dari sebuah peristiwa semacam ini. “Jadikan sebagai jurnalisme perdamaian bertujuan untuk menghindari atau melawan bias terus-menerus yang menilai kekerasan dan pihak-pihak yang melakukan kekerasan”.

Imam menyebut elemen jurnalisme positif adalah jurnalis berposisi aktif, bukan pasif. Fokus pada solusi dari sebuah masalah, mencari dan memenuhi kebutuhan publik. “Karena tidak selalu berfokus terhadap konten berita negatif untuk disajikan kepada publik. Tujuan jurnalis memverifikasi informasi palsu yang beredar di media sosial untuk diluruskan atau menjadi kredibilitas berita,” ucapnya.

Imam juga memaparkan maraknya media abal-abal yang beroperasi menjalankan kegiatan jurnalistik. Ia menyebut bahwa media yang tidak melakukan peningkatan kompetensi wartawannya dan melakukan ‘iklan tembak’ itu adalah media abal-abal.

“Peran media dan jurnalis yang sesungguhnya yaitu bertanggung jawab moral kepada masyarakat,” tegas Imam.

Pada dasarnya, lanjut Imam, Dewan Pers terus berupaya untuk melindungi jurnalis profesional yang punya sertifikasi diberlakukan oleh Dewan Pers. “Sedangkan wartawan dan media di luar ketentuan pers, itu di luar tanggung jawab Dewan Pers,” ungkap Imam.

Selain Imam, pemateri lainnya Dr. Oktri Mohammad Firdaus, M.T., IPM. (Assistant Professor, Operation and Supply Chain Management Graduate School of Management, Universitas Garut), dengan tema materinya “Jurnalis yang Bermanfaat dan Berdampak Positif”, dan Imam Wahyudi (Tokoh Pers).

Media gathering ini mengusung tema “Sinergi dan Kolaborasi untuk Meningkatkan Kompetensi,” dibuka VP TJSL & Humas PT PIM, Saiful Rakjab.[]