BANDA ACEH – Ratusan abang (tukang) becak, sopir angkutan umum L-300 dan taxi menggelar aksi di halaman Kantor Gubernur Aceh menolak transportasi berbasis aplikasi atau online. 

“Yang kami tuntut menolak layanan transportasi berbasis online, kami minta ditutup,” kata Zulfikar, salah seorang abang becak ditemui portalsatu.com di lokasi itu, Senin, 16 Oktober 2017.

“Kami minta angkutan kota itu jam lima (pukul 17.00 WIB) sudah tutup, hari Minggu jangan narek (beroperasi),” ujar Zulfikar.

Zulfikar menyebutkan, imbas beroperasinya transportasi berbasis online, pendapatan pihaknya berkurang dari Rp100 ribu menjadi Rp15 ribu per hari.

“Kami minta kepada gubernur untuk mendengar aspirasi kami tukang becak. Kami masih menunggu gubernur untuk menjumpai kami,” kata Zulfikar. 

Zulfikar menambahkan, para abang becak dan sopir angkutan umum yang berunjuk rasa itu berasal dari pos-pos pangkalan becak dari seluruh Kota Banda Aceh dan Aceh Besar. “Di Banda Aceh misalnya, ada dari Peunayong, Pekan Aceh, Lamprit,  Ulee Lheu, Ulee Kareng, Luengbata, Batoh, Seutui,” ujarnya. 

Salah seorang sopir taxi dalam orasinya mengatakan, “Kalau kita tidak lapar tidak mungkin kami kemari, Pak Gubernur kami tidak ada pekerjaan, dulu kami yang pilih Pak Gubernur”.[] 

Laporan Taufan Mustafa