LHOKSUKON – Partai SIRA akan kembali meramaikan pemilu legislatif 2019 mendatang. Setelah lima tahun vakum, Ketua Umum DPP Partai SIRA, Muhammad Nazar, memiliki beberapa alasan untuk kembali. Salah satunya melanjutkan keistiqamahan dan menepati janji yang pernah diucap dulu.
“Saat ini kita sedang mempersiapkan segala administrasi, ada aturan-aturan yang harus kita penuhi termasuk kuota jumlah perempuan. Di sini, Partai SIRA sudah sah dari dulu, bukan lagi kembali ke nol. Artinya, SIRA sudah menjadi partai politik tapi bukan partai pemilu, karena SIRA tidak ikut pemilu 2014 lalu. Itu sudah aman satu langkah,” ujar Muhammad Nazar, usai konferensi wilayah Partai SIRA Aceh Utara di Lhoksukon, Minggu, 27 Agustus 2017.
Terkait pengurus lama Partai SIRA yang sudah banyak masuk partai lain, Nazar mengatakan, dirinya tidak keberatan mereka kembali dan membuka pintu lebar-lebar. Dengan catatan, tegas Nazar, mereka harus keluar dari partai mereka bernaung saat ini.
“Ini rumah yang kita bangun dari nol bersama-sama. Kita berupaya memvitalkan peran Partai SIRA, maupun partai lainnya dalam pembangunan di Aceh. Itu tujuan kita, karena SIRA punya kapasitas yang cukup tangguh, banyak mantan aktivis, mantan pejuang, sarjana, alumni pesantren, alumni dayah dan lainnya. Ini imej yang sangat penting,” kata Nazar.
Ia mengatakaan SIRA sempat vakum selama lima tahun karena faktor kekerasan politik di Pemilu Legislatif 2009. Mereka kemudian belajar dari Pilkada 2012 dan sepakat tidak ikut serta di Pileg 2014.
“Tapi sebagai partai kita sering mengeluarkan statement, namun bukan sebagai peserta pemilu. Saat itu kita sepakat akan daftar pada pemilu berikutnya, dan ini sudah tiba waktunya. Ini sebenarnya melanjutkan keistiqamahan, janji dulu. Sekarang dengan segala kelebihan dan kekurangan kita tetap harus mendaftar,” kata Nazar.
Saat ini, Nazar juga melihat perubahan politik yang terjadi di lapangan, sehingga memperkuat kawan-kawan dan pendukung. Sebagian bahkan ada kader partai lain mundur dan masuk ke SIRA.
Soal sokongan dana, Nazar menyebutkan, itu berasal dari berbagai sumber. Mulai dari kader-kader kalangan swasta/pengusaha, sumbangan wajib anggota, dan dukungan dari simpatisan.
“Salah satu kelebihan yang dimiliki SIRA, kerelawanannya tinggi. Saya melihat kemenangan sebuah pergerakan politik, termasuk partai politik bukan dana pemicu utama, tapi kerelawanan. Dana hanya untuk hal-hal yang bersifat kebutuhan pokok, misalkan sewa kantor, bukan untuk bagi-bagi uang,” katanya lagi.
Dia mengatakan kembalinya Partai SIRA adalah sebuah kewajiban moral untuk memperbaiki keadaan di Aceh. Menurutnya, SIRA selaku partai yang ideologis dengan kekuatan yang luar biasa secara kemampuan intelektualitas, sangat disayangkan jika tidak dilanjutkan.
“Saya tidak naik DPRA dan belum tentu naik DPR-RI, sedangkan untuk gubernur kan baru saja pemilihan. Jika pun naik DPR-RI, kan tidak harus melalui SIRA. Begitu juga misalkan naik gubernur, kan tinggal cari sponsor dan melalui partai orang. Tapi disini, ada kewajiban moral kita untuk memperbaiki keadaan di Aceh,” ujarnya.
Untuk saat ini, Nazar mengaku belum memasang target dan masih fokus melengkapi administrasi. “Aceh Utara salah satu daerah yang kita lihat sebagai basis SIRA dari dulu. Kita harapkan tidak berpapasan dengan kekerasan seperti 2012, karena karakter orang SIRA tidak mencintai kekerasan,” kata Muhammad Nazar.[]

