CALANG – Wakil Bupati Aceh Jaya, Teungku Maulidi, menjelaskan proses Peumeunap dan Seumeuleueng merupakan acara adat yang telah dilakukan secara turun-temurun di Kabupaten Aceh Jaya.
“Ini adalah bentuk pelestarian budaya dalam rangka memperingati lahirnya Kerajaan Daya,” ujarnya melalui siaran pers yang diterima portalsatu.com, Kamis, 15 September 2016.
Proses Peumunap dan Seumeuleung dilakukan pertama kali di saat Kerajaan Nanggroe Daya dideklarasikan pada 10 Zulhijjah atau pada hari raya pertama Idul Adha. Kerajaan ini kata Maulidi, diketahui punya relasi yang luas, atau telah membangun hubungan bilateral dengan berbagai negara sehingga saat dideklarasi banyak perwakilan negara yang hadir seperti dari Amerika Serikat, Inggris dan Portugis.
“Melalui acara ini kita mengharapkan bisa memberi motivasi bagi masyarakat Aceh khususnya Aceh Jaya dalam mempertahankan adat dan budaya kita.”
Awal terbentuk Kerajaan Daya adalah saat Poe Temereuhom diutus pada Sultan Aceh untuk mengatasi kemelut yang dihadapi empat kerajaan kecil di Negeri Daya. Keempat kerajaan kecil itu adalah Kerajaan Keuluang, Lamno, Kuala Unga dan Kuala Daya. Saat Sultan Alaiddin Riayatsyah tiba, beliau mengumpulkan keempat raja dan mendeklarasikan berdirinya Kerajaan Daya pada hari pertama Idul Adha.
Poe Teumereuhom, julukan sang sultan dikenal juga sebagai pelahir adat di bumi Aceh. Tak heran jika kemudian jika ada sebuah nazam berbunyi Adat Bak Poe Teumeureuhom, Hukom Bak Syah Kuala, Qanun Bak Putro Phang, Reusam bak Laksamana.
Seperti diberitakan sebelumnya, acara Peumeunap dan Seumeuleueng dibuat pada Rabu, 14 September 2016 di Gampông Gle Jong Kecamatan Jaya Kabupaten Aceh Jaya. Di acara itu Wakil Gubernur Aceh H. Muzakir Manaf menjadi tamu agung.[](ihn)



