YANGON – Seorang wanita suku Chin di Myanmar yang dipenuhi tato pada wajahnya. Pada masa lampau, para wanita menato wajah mereka untuk menyamarkan kecantikan mereka demi menghindari nikahi oleh raja Myanmar.

Meski pada mulanya tindakan ini untuk membuat mereka terlihat buruk rupa, namun seiring berlalunya waktu tato ini malah dianggap cantik oleh masyarakat Chin. Selain itu tato ini juga menjadi lambang kekuatan dan kecerdasan bagi mereka.

Terdapat 12 suku yang mendiami kawasan Chin di Myanmar ini yang mempraktekkan seni tato wajah. Namun, pemerintah Myanmar secara resmi melarangnya tradisi tato wajah ini pada 1960.

Tradisi tato ini sudah di ambang kepunahan dan hanya terdapat pada wanita-wanita lanjut usia di suku Chin saja. Karena banyak wanita dari suku Chin sudah pindah ke kota dan menganggap tato di wajah sudah tidak relevan lagi dengan mereka.

Motif tato berkisar dari garis, titik, hingga lingkaran kecil atau kombinasi keduanya. Tradisi ini biasanya dimulai saat anak perempuan menginjak usia 11 tahun hingga 15 tahun atau saat beranjak puber.

Tidak ada upacara khusus saat proses tato ini. Proses menato wajah ini sangat menyakitkan dan dapat menimbulkan efek seperti kesulitan untuk membuka mata beberapa minggu setelah ditato. Selain itu efek lain yang biasa terjadi adalah tidak dapat berbicara untuk beberapa waktu karena bibir yang membengkak.[]Sumber:dailymail.co.uk/tempo.co