BLANGKEJEREN – Belasan desa di Kabupaten Gayo Lues masih terisolir pasca bencana banjir dan tanah longsor, upaya Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) untuk menerobos jalan longsor dan amblas masih belum berhasil.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Gayo Lues Chairuddin Kasiman, Kamis, 18 Desember 2025, mengatakan hingga 23 hari pascabanjir dan longsor, masih ada sejumlah desa yang masih terisolir.
“Desa yang masih terisolir di Kabupaten Gayo Lues antara lain adalah Desa Pintu Rime, Ekan, Pertik, Pining, Pasir Putih, dan Lesten yang berada di Kecamatan Pining, kemudian di Kecamatan Pantan Cuaca, desa yang masih terisolir adalah desa Remukut, Tetinggi, dan Ise-Ise,” katanya.
Di Kecamatan Tripe Jaya, desa yang masih terisolir adalah Desa Paya Kumer, Desa Rerebe, Buntul Musara, Desa Pasir, Desa Perlak, Desa Pulo Gelime, dan Desa Setul.
“Kita sudah mengerahkan alat berat ke lokasi untuk perbaikan jalan yang longsor dan amblas, tetapi karena jumlah badan yang longsor dan amblas sangat banyak, makaya membutuhkan waktu yang lama,” katanya.
Selain banyak titik jalan yang longsor dan amblas, yang menjadi permasalahan lainya adalah tanah gunung yang longsor seperti bubur, ketika dikerok alat berat, dari atas turun lagi menimbun badan jalan.
“Tidak bisa kita targetkan kapan siapnya, karena yang jadi permasalahnya adalah tanah longsor yang beair seperti bubur, ketika dikeruk, turun lagi, dikeruk lagi, turun lagi, itulah masalahnya,” katanya.
Meski desa-desa itu masih terisolir, bantuan-bantuan tetap disalurkan, baik diantar menggunakan pesawat, dijemput pengungsi ke lokasi yang bisa dilewati kendaraan, maupun diantar langsung oleh relawan-relawan.[]


