BANDA ACEH – Masyarakan awam mungkin beranggapan bahwa bipolar disorder sama dengan kepribadian ganda. Padahal bipolar disorder ini merupakan gangguan masalah kejiwaan yang masuk dalam kelompok mood disorder atau mood yang labil.
Sedangkan kepribadian ganda merupakan gangguan jiwa yang disebut dengan gangguan identitas disosiatif atau dissociative identity disorder, tapi gangguan ini beda dengan bipolar.
Hal itu diluruskan oleh dosen Fakultas Ilmu Keperawatan Unsyiah Marthoenis, PhD dalam diskusi bertajuk “Bipolar Disorder” yang dibuat Griya Schizofren Aceh di Haba Kupi, Rabu, 8 Maret 2017 lalu.
“Bipolar disorder ini gangguan jiwa bukan kepribadian ganda. Penderitanya cukup banyak dan sebagian besar mereka tidak sadar kalau mereka sakit. Makanya susah diobati,” kata dosen lulusan Jerman ini yang sering meneliti mengenai kesehatan jiwa.
Penyakit ini kata dia dulunya dikenal dengan istilah manic depression, yaitu gangguan jiwa yang terdiri dari dua periode yaitu manic dan depresi. Saat penderitanya berada dalam periode manic, gejalanya bisa berupa semangat yang berlebihan, tidak tidur berhari-hari dan mereka tidak merasa butuh tidur. “Bahkan beranggapan tidur hanya akan menurunkan produktivitas mereka,” kata Marthoenis.
Gejala lainnya, rasa percaya diri berlebih, banyak bicara, belanja tak karuan dan idenya terbang-terbang (flight of idea).
Jika sedang ada di fase depresi, penderitanya cenderung merasa sedih atau merasa bersalah. Mereka juga sering merasa kehilangan harapan, perawatan diri menurun, mudah tersinggung dan cepat marah.
“Penderitanya nggak selalu manic terus, kadang normal, bahkan saat normal ya seperti orang normal pada umumnya,” katanya.
Penyebab pasti bipolar disorder ini belum diketahui kata Marthoenis, karena jika dilihat secara ginetik belum ada yang menemukan satu sel pun yang menyebabkan seseorang mengalami bipolar. Marthoenis juga mengatakan, 80 persen orang tidak punya pemahaman mengenai penyakit jiwa.
“Hanya 20 persen yang paham, itupun karena biasanya dia sendiri yang sakit atau ada keluarganya yang sakit, sehingga mau tidak mau dia harus mencari informasi,” katanya.
Orang dengan gangguan jiwa katanya merupakan kelompok rentan yang paling membutuhkan perhatian. Selama ini kata dia, para penderita gangguan jiwa nyaris tidak mendapatkan perhatian baik dari keluarga maupun dari lingkungannya. Ia mencontohkan, ada pasien jiwa di rumah sakit jiwa yang sudah sembuh namun kembali terganggu jiwanya karena keluarganya tidak mau menjemputnya untuk dibawa pulang.[]

