LHOKSEUMAWE – Bupati Aceh Utara, Muhammad Thaib, mengatakan, penyebab banjir yang melanda kabupaten ini saban tahun akibat perambahan hutan sudah sangat parah. Menurut dia, solusinya ke depan semua tanggul sungai harus dibangun dengan beton supaya tidak jebol saat debit air meningkat.
“(Banjir) itu terjadi karena perambahan hutan sudah sangat parah,” kata Muhammad Thaib alias Cek Mad kepada para wartawan usai rapat paripurna DPRK Aceh Utara tentang penandatanganan Nota Kesepakatan KUA-PPAS 2019, di gedung dewan, 19 November 2018, sore.
Baca juga: Bupati dan Dewan Aceh Utara Teken KUA-PPAS 2019 Rp2,51 Triliun
“Yang jelas saya naik ke atas hutan sudah gundul. Siapa gunduli saya nggak tahu,” ujar Cek Mad.
Menurut Cek Mad, dampak perambahan hutan sudah sangat parah, setiap hujan di Bener Meriah, airnya akan mengalir ke Aceh Utara sehingga terjadi banjir.
Disinggung soal master plan Pemkab Aceh Utara berkaitan pencegahan banjir yang terjadi tiap tahun, Cek Mad mengatakan, “Persoalannya adalah waduk yang kita bangun itu tidak bisa menahan debit air yang begitu tinggi. Maka ke depan grand master (grand design) kita agar jangan lagi jebol, tanggul itu akan dibeton”.
“Inilah yang kita buat (pengajuan anggaran) ke kementerian. Apakah kementerian setuju atau tidak. Ada berapa tempat (tanggul sungai) yang harus kita buat dengan beton,” kata Cek Mad.[](idg)



