SIGLI – Scabies atau kudis acap menyerang masyarakat terutama bagi mereka yang hidup di asrama. Di Pidie, saat ini penyakit tersebut mulai menggejala. Dinas Kesehatan Pidie menganjurkan masyarakat untuk pahami gejala dan cara mengatasinya.

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Pidie, dr. Muhammad Dwi Wijaya, kepada portalsatu.com/, Senin, 23 Desember 2024, menjelaskan scabies atau kudis adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau mikroskopis bernama Sarcoptes scabiei.

“Tungau ini menggali terowongan di bawah kulit untuk bertelur, dan larva tungau yang menetas akan bergerak ke permukaan kulit,” ujar dokter Dwi.

Adapun gejala scabies berupa rasa gatal yang sangat kuat, terutama di malam hari, ruam kulit berupa benjolan keras berwarna merah yang sering kali membentuk garis seperti terowongan, luka yang terbentuk akibat menggaruk kulit terlalu keras.

Menurut Dwi, scabies dapat menular melalui kontak fisik, dan sering terjadi di lingkungan keluarga, sekolah, dan asrama.

Beberapa faktor risiko yang dapat memicu terjangkitnya scabies melalui kontak langsung dengan penderita kudis, menggunakan barang-barang tertentu, seperti sprei, bantal, handuk atau sisir milik penderita scabies, jika daya tahan tubuh lemah.

Dwi menyebut scabies dapat disembuhkan dengan obat-obatan, seperti krim permethrin, losion benzyl benzoate, losion calamine, salep sulfur, krim crotamiton, dan losion lindane.

Namun, kata Dwi, terpenting bukan cara penyembuhan, tetapi perlu upaya pencegahan agar tidak terjangkit panyakit tersebut.

Untuk mencegah penyebaran scabies, Dwi menyarankan masyarakat untuk menghindari kontak dengan orang yang terinfeksi, mencuci barang yang terkontaminasi dengan sabun dan merendamnya dengan air panas.

“Rutin membersihkan rumah, menjemur kasur, bantal, guling, dan karpet atau tikar di bawah sinar matahari secara rutin,” ucap dokter Dwi.[](Zamahsari)