KITA telah sering mendengar kata takwa, bahkan memahami sekali defenisinya. Takwa dapat disebut dengan buahnya ibadah. Sebagaimana dalam pendidikan Islam, takwa menjadi bagian dari tujuan pendidikan. Dalam Islam takwa menjadi garansi terhadap pertolongan dan ampunan Allah.

Takwa bisa bermakna memelihara diri, sikap menghindar dari yang dilarang dan rasa takut. Sikap takwa selalu melekat dengan rasa diawasi oleh Allah. Banyak sumber yang menyebutkan tentang karakteristik seorang yang takwa, diantaranya bersikap ihsan (menjaga kualitas amal) dan bersikap adil, baik bagi diri sendiri ataupun orang lain.

Jadi, karakter takwa hendaknya terpatri dalam setiap pribadi muslim di setiap bentuk profesi dan aktivitas hidup. Bahkan, bila secara komunal sikap takwa terbentuk dalam wujud budaya kita, maka Allah menjanjikan turunnya berkah dari langit dan bumi.

Sudah menjadi sunnatullah bahwa setiap hasil memerlukan proses, dan diantara proses tersebut adalah ujian dan rintangan yang mesti dilampaui oleh siapapun yang mukmin. Terkadang ujian tersebut berupa kesenangan, kadang pula ujian datang dengan bentuk kesusahan dan kesempitan. Selama kita berada dalam ketaatan, maka susah dan senang kedua bernilai.

Maka untuk senantiasa dapat memelihara takwa tadi, selain dengan menunaikan kewajiban, kita juga perlu secara rutin dan konstan untuk terus meneliti diri. Yaitu dengan  terus mengkaji motif-motif dan bisikan dalam hati untuk memastikan bahwa kita tidak berada di jalan yang salah.

Cara tersebut adalah introspeksi diri, lazim dikenal dengan muhasabah, yaitu menilai diri. Bahkan sampai memberikan sanksi bagi diri sendiri bila melanggar suatu kaidah yang kita yakini. Walau ini tampak mudah untuk disebutkan, tapi sangat banyak diantara kita yang mengabaikan. Abai karena kita tak sempat lagi berdialog dengan diri sendiri dikarenakan kesibukan yang menghimpit. Padahal dalam kesibukan yang menghimpit tadi sang jiwa ini bagai ringkih dan tercabik.

Adalah sangat baik bila kita dapat memanfaatkan setiap momen dalam ritus shalat sebagai medium intrspeksi antarwaktu di keseharian kita. Kemudian ada pula shalat jumat yang  bisa dijadikan medium pekanan dalam merawat takwa kita, sekaligus menjadikan introspeksi, muhasabah diri sebagai penyangga takwa.[]

Taufik Sentana
Dari Ikatan Dai Indonesia Kabupaten Aceh Barat.