Oleh: Syukri Isa Bluka Teubai
Hari-hari terus berlalu dan tiada yang akan mampu untuk merayu waktu. Siapapun itu. Bagaimanapun caranya, walau dengan apa sahaja. Sungguh tiada yang sanggup, belum ada yang mampu dan tiada akan pernah mampu untuk mengulanginya. Kita (manusia) hanya bisa untuk melewatinya, meninggalkannya sahaja.
Hari Rabu, tanggal 29 Juni 2016. Menjelang sore harinya, penulis berkesempatan hadir untuk berkunjung adakalanya bersilaturrahmi ke rumah salah seorang tokoh Aceh di masa Ali Hasjmy dahulu, mungkin apabila penulis tiada berkesempatan di hari dan di waktu itu, sampai sekarang masih belum tahu bahkan mengetahui bahawa sekarang ini masih ada tokoh Aceh terdahulu.
Oleh kerana kesempatan tersebutlah (diajak oleh kanda Thayeb Loh Angen dan Dr. Mehmet Ozay), hari ini penulis tahu bahawa masih ada saksi hidup akan sekalian sejarah di negeri ini. Dan juga memang sudah menjadi tanggung jawab generasi muda untuk mencari, membenahi, memahami yang namanya sejarah. Supaya di masanya (kita) nanti, generasi-generasi penerus bangsa ini tidak termasuk ke dalam golongan penyemai lada, di kala pesawat sudah terbang. Tiada gunanya lagi.
Sesampainya di hadapan pintu pagar rumah orang yang dimaksud, kami yang baru datang telah ditunggu oleh Dr. Mehmet Ozay, ia duluan sampai dan sendiri. Penulis berboncengan satu kereta dengan Wildan El Fadhil, Ariful Azmi Usman berboncengan satu kereta juga dengan Thayeb Loh Angen. Kereta sudah terparkir rapi. Kamipun mulai menggerakkan langkah untuk masuk ke halaman rumah tersebut.

Tiada lama menunggu kami pun dipersilahkan masuk oleh seorang perempuan, ia rupanya cucu dari sang penulis di masanya tersebut. Setelah dipersilahkan duduk, penulis heran melihat apa yang ada di atas meja tamu itu, walau di situ hanya sebuah kaca mata, beberapa lembar kertas untuk menulis dan pulpen. Sehingga penulis sempat berguman sendiri Apakah ia masih menulis di usianya yang sekarang ini?
Tubuh kerontang terbaring lemas di atas kursi tamu rumahnya yang masih model lama, iaitu rumah semi panggung era tahun tujuh puluhan. Daging yang sudah sedikit itu kian mengendor di dalam balutan kulit tubuh berwarna putih tersebut dan tergeletak bagai tiada berdaya. Tiada banyak lagi perkataan yang keluar dari mulutnya bahkan hampir ia tiada berkata-kata, hanya terbaring lesu sahaja.
Teuku Alibasyah Talsya adalah nama dari seorang sosok yang sangat bersahaja itu, meskipun dalam keadaannya yang begitu lemah, memprihatinkan bagi siapa sahaja yang akan melihatnya. Akan tetapi ia masih juga menjaga baik adat, selaku budaya dalam menerima tamu yang datang untuk bersilaturrahmi dengannya. Yangmana semua dari perilaku tersebut membuat penulis merasa iri kepadanya.
Kerana di masa sekarang ini, sudah sangat-sangat jarang ada manusia yang masih berperilaku demikian dalam hal menyambut tamu. Walaupun mereka-mereka itu masih sehat walafiat, tiadalah membahas lagi jika mereka dalam sekarat. Namun tiada demikian dengan pribadi seorang tokoh ini, yangmana di masanya tersebut ia sangat disegani. Ialah yang tersebut, Teuku Alibasyah Talsya. Rumahnya di Pante Riek, Lueng Bata, Banda Aceh.
Seorang penulis, wartawan senior dan termasuk orang yang memiliki pengaruh di masa pemerintahan Ali Hasjmy, walau tiada sebegitu tenar seperti sang gubernur Ali itu, akan tetapi di masa ini ialah yang masih menjadi saksi hidup dari sekalian sejarah Nanggroe. Ialah pemilik sejuta kisah yang masih diberkahi umur panjang oleh Allah SWT.
Penulis iri melihat buku-buku yang sudah dibacanya dan tersusun rapi di dalam rak bacanya.[]
*Syukri Isa Bluka Teubai, Alumnus Sekolah Hamzah Fansuri (ASHaF)

