BANDA ACEH – Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, berkomitmen untuk memberikan bantuan kepada ribuan umat Musim Rohingya, yang saat ini sedang mengungsi di Bangladesh untuk menghindari kecamuk konflik di Rakhine State. Penegasan tersebut disampaikan Irwandi usai meninjau dan melepas keberangkatan dua unit pesawat jenis Hercules milik TNI AU, yang akan bertolak ke Bangladesh untuk menyerahkan bantuan dari Pemerintah Indonesia kepada warga Rohingya yang saat ini mengungsi di Bangladesh.

“Bantuan dari rakyat Aceh saat ini sedang terus dikumpulkan. Insya Allah, Pemerintah Aceh juga akan memberikan bantuan untuk masyarakat Rohingya. Inikan pemberangkatan bantuan satu-satunya, ke depan bantuan juga akan terus disalurkan ke Rohingya,” kata Irwandi.

Irwandi mengatakan sebagai Kepala Pemerintahan Aceh juga telah menyurati Duta Besar Myanmar. Dia mengimbau agar Pemerintah Myanmar menghentikan segala bentuk tindak kekerasan dan mengedepankan jalan damai dalam menyelesaikan konflik antara warga Rakhine dan umat Muslim Rohingya.

“Ada beberapa poin yang saya sampaikan dalam surat tersebut. Intinya saya meminta agar penyelesaian konflik dengan kekerasan dihentikan. Saya juga menyatakan bahwa Aceh juga pernah mengalami konflik dan penyelesaiannya dilakukan dengan cara-cara damai bukan dengan usir mengusir,” kata Irwandi.

Kemarin, Lanud Sultan Iskandar Muda memberangkatkan dua unit pesawat Hercules berisi bantuan untuk Muslim Rohingya. Dua unit Hercules lainnya juga bertolak menuju Bangladesh untuk mengirimkan bantuan, Jumat, 15 September 2017.

Sebelumnya, Danlanud SIM, Kolonel Pnb Suliono menjelaskan, pesawat Hercules diberikan waktu dua jam untuk membongkar bantuan di bandara Bangladesh. Selanjutnya pesawat akan bertolak kembali ke Indonesia.

“Kita sudah siapkan empat pesawat, tapi yang bisa berangkat hanya dua untuk hari ini. Kalau diizinkan semua tentu semuanya kita berangkatkan hari ini. Namun karena ini melibatkan dua negara, jadi harus kita sesuaikan dengan mekanisme di sana,” kata Danlanud.

Untuk diketahui bersama, Lanud SIM menjadi posko operasi kemanusiaan untuk Muslim Rohingya. Hal ini dikarenakan strategisnya posisi Lanud SIM yang hanya berjarak empat jam perjalanan udara menuju Bangladesh.

Selain bantuan dalam bentuk makanan, Pemerintah RI juga memberangkatkan sejumlah Personil Paskhas TNI AU dan tim dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk menjalankan misi kemanusian di pusat pengungsian Muslim Rohingya di Bangladesh.

Sejumlah pejabat Aceh turut mendampingi Gubernur di Lanud SIM, diantaranya Kepala Dinas Sosial Aceh, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Aceh dan Karo Humas dan Protokol Setda Aceh.[]