TAPAKTUAN – Mantan Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf mengatakan keputusannya maju kembali pada Pilkada 2017 berangkat dari panggilan jiwa karena merasa prihatin melihat kondisi perekonomian masyarakat Aceh terus merosot sejak lima tahun terakhir.

“Sebenarnya pada hari ini saya tidak perlu lagi berdiri di depan saudara-saudara semua, karena sudah saatnya saya beristirahat memberi kesempatan pada orang lain, kecuali pada situasi emergency tertentu yang membutuhkan kehadiran saya sebagai mantan gubernur. Namun ketika melihat kondisi perekonomian masyarakat yang terus merosot pascasaya tinggalkan lima tahun lalu, saya merasa terpanggil lagi untuk mencalonkan diri,” kata Irwandi Yusuf dalam orasi politiknya pada acara penyerahan SK tim relawannya sekaligus berkampanye di Lapangan Sepak Bola, Kecamatan Samadua, Aceh Selatan, Jumat, 18 November 2016.

Irwandi mengaku kecewa melihat kondisi perekonomian rakyat Aceh yang dulunya sudah mulai bangkit seusai konflik dan tsunami, tapi kini kembali merosot. Sejumlah program yang dia tinggalkan dulu saat masih menjabat gubernur justru tidak mampu dipertahankan Pemerintah Aceh sekarang ini.

Sebenarnya, kata Irwandi, tugas utama dia saat menjabat Gubernur Aceh tahun 2007-2012 hanya untuk mempertahankan perdamaian Aceh agar tidak goyah lagi. “Namun yang sangat disayangkan adalah keberhasilan kami mempertahankan perdamaian di Aceh seolah-olah tidak ada. Tak ubahnya seperti ikan yang biasa hidup di air menjadi lupa terhadap air itu sendiri. Kapan baru terasa air itu penting? Yaitu ketika ikannya kena pancing ke darat,” ungkap Irwandi menamsilkan.

Irwandi mengklaim beberapa program yang dicetuskannya saat masih menjabat dulu, ternyata dicontoh oleh Pemerintah Pusat. Dia mencontohkan seperti program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA), terbukti telah menjadi contoh lahirnya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang sekarang dikelola BPJS.

“Orang luar Aceh sangat bersyukur lahirnya program JKA di Aceh saat itu, karena terbukti telah menjadi rujukan lahirnya program JKN di tingkat pusat yang kemudian dikelola dalam bentuk BPJS. Tidak hanya itu, saya juga gubernur pertama di Indonesia menginisiasi lahirnya Bantuan Keuangan Pemakmu Gampong (BKPG) sebesar Rp75 juta per kampung yang kemudian juga dicontoh Pemerintah Pusat dengan lahirnya dana desa,” papar Irwandi.

Terkait alokasi dana BKPG dalam APBA telah dihapus oleh Pemerintah Aceh sekarang ini, Irwandi Yusuf mengaku mendukung penuh kebijakan tersebut. Sebab dengan telah adanya alokasi anggaran sumber APBN ke desa-desa untuk apa lagi dialokasikan dana BKPG sumber APBA.

Namun, jika dia terpilih menjadi Gubernur Aceh ke depan Irwandi menyatakan alokasi dana BKPG yang telah dihapus tersebut akan dialihkan untuk alokasi bantuan dana beasiswa kepada anak yatim yang jumlahnya sekarang diperkirakan sekitar 124.000 orang.

“Program beasiswa anak yatim yang dulunya sudah saya cetuskan pertama kali, jika saya terpilih nanti jumlahnya akan ditambah lagi sesuai kenaikan harga kebutuhan hidup, sehingga para anak yatim dapat menempuh pendidikan seperti masyarakat yang lain,” janji Irwandi.

Irwandi mengaku meskipun dirinya bukan orang Aceh Selatan, tapi saat dia menjabat Gubernur dulu sudah membuktikan bahwa telah membangun kabupaten ini melebihi program pembangunan yang mampu dilakukan putra daerah setempat.

Buktinya, kata dia, saat menjabat gubernur dulu lima Kepala SKPA berasal dari Aceh Selatan. Mereka adalah Ir. Muhyan Yunan (Kadis PU) yang notabenenya SKPA terbesar mengelola anggaran APBA. Kemudian Muhti Majid (Kepala Dinas Pengairan), Yuwaldi Away (Kadis Perhubungan), Prof. Jasman Ma`ruf dan T. Machsalmina Ali.

“Saat itu saya buat fit and propertest, banyak orang menduga saat itu hasil uji kepatutan dan kelayakan itu akan banyak orang kampung halaman saya dari Bireuen yang akan lolos. Namun ternyata hasilnya pejabat dari Bireuen hanya sebagian kecil, lebih banyak dari Aceh Selatan,” ungkap Irwandi.

Menurut Irwandi, tujuan dirinya lebih banyak mengangkat pejabat dari pantai barat selatan saat itu agar wilayah tersebut tidak lagi mengklaim dirinya “dianaktirikan” Pemerintah Aceh dalam hal pembangunan.

“Dengan banyak pejabat dari pantai barat selatan, maka pembangunan proyek infrastrukturnya dapat lebih digenjot lagi, sehingga stigma anak tiri dan anak kandung itu tidak dikenal lagi,” katanya.

Ketua Sekretariat Bersama (Sekber) Pemenangan Irwandi Yusuf – Nova Iriansyah, Kabupaten Aceh Selatan, Abdullah menyatakan, kegiatan kampanye di Kecamatan Samadua tersebut, selain mendengarkan orasi poliitk Irwandi Yusuf juga dirangkai pengukuhan tim relawan pemenangan.

“Tim relawan yang dikukuhkan tersebut berasal dari empat kecamatan yaitu Meukek, Sawang, Samadua dan Tapaktuan dengan jumlah masing-masingnya sebanyak 500 orang. Sedangkan massa yang hadir memadati lokasi acara mencapai ribuan orang khususnya berasal dari masyarakat Kecamatan Samadua sebagai tuan rumah lokasi acara,” papar Abdullah.

Hadir dalam acara ini antara lain mantan Pangdam Iskandar Muda Mayjen TNI (Purn.) Soenarko, para pimpinan partai politik pendukung dan pengusung pasangan Irwandi – Nova tingkat Kabupaten Aceh Selatan, mantan Panglima GAM wilayah Lhok Tapaktuan Tengku Abrar Muda, Tengku Gam Sawang, Tengku Mamak Samsul Bahri, Tengku Salwadi, Tengku Amri serta ratusan tokoh, petinggi dan mantan kombatan GAM lainnya.[]

Laporan Hendrik