BANDA ACEH – Bakal calon pemimpin di Aceh yang sudah muncul saat ini dianggap belum terlalu menonjolkan visi menyukseskan implementasi Syar’iat Islam dalam semua dimensi kehidupan masyarakat Aceh.
Padahal, implementasi Syar’iat Islam di Aceh bukanlah sesuatu yang diperoleh secara gratis oleh kita sebagai bangsa Aceh. Izin pelaksanaan Syar’iat Islam di Aceh adalah hasil perjuangan panjang dan melelahkan para endatu bangsa Aceh.
Pernyataan tersebut disampaikan Sekjend Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Alumni Dayah (DPP ISAD), Dr. Teuku Zulkhairi melalui siaran pers, Minggu 14 Juli 2024.
“Sejauh ini belum terlihat visi besar menyukseskan penerapan Syari’at Islam di Aceh oleh umumnya para bakal calon pemimpin di Aceh. Mungkin bukan tidak ada visi ke arah tersebut, tapi belum nampak serius dari yang seharusnya lebih serius,” ujar Teuku Zulkhairi.
Teuku Zulkhairi mengingatkan, bahwa Syar’iat Islam di Aceh adalah pertaruhan yang harus disukseskan. Bahwa Syar’iat Islam adalah jalan menuju kejayaan dan kebangkitan Aceh.
“Dengan implementasi Syar’iat Islam secara menyeluruh di Aceh, insyaAllah masyarakat Aceh akan hidup sejahtera dan bahagia dunia dan akhirat. Itu sebab, seharusnya semua bakal calon pemimpin di Aceh seharusnya betul-betul serius menjadikan implementasi Syar’iat Islam dalam semua dimensi kehidupan sebagai visi utamanya,” kata Teuku Zulkhairi menyarankan.
“Banda Aceh misalnya. Sebagai ibukota provinsi Aceh yang diharapakan menjadi pilot project pelaksanaan Syari’at Islam di Aceh, maka para bakal calon Walikota dan Wakil Walikota di Banda Aceh harus lebih serius menjadikan penegakan Syari’at Islam sebagai visi besar mereka. Karena ini hujan saja kewajiban kita di hadapan Allah, tapi juga menjadi pertaruhan kita di hadapan dunia Islam agar mereka bisa melihat keberhasilan dari Syari’at Islam yang kita jalankan sehingga mereka memiliki rujukan,” harap Teuku Zulkhairi.
Apalagi, tambah Zulkhairi, penegakan Syar’iat Islam di Banda Aceh dewasa ini semakin melemah. Jadi kita di Aceh bukan saja gagal menjadikan Syar’iat Islam memasuki semua dimensi kehidupan, tapi apa yang seharusnya ditegakkan dengan penuh kesungguhan pun semakin melemah sehingga muncullah banyak problem sosial di masyarakat kita seperti merebaknya HIV AIDS, status Aceh sebagai provinsi termiskin, tingginya angka pemerkosaan dan sebagainya.
Akvivis dayah yang juga akademisi ini juga mengingatkan bahwa implementasi Syar’iat Islam di Aceh itu memang perlu keberanian dan kesiapan menghadapi tantangan karena besarnya ketidak sukaan sejumlah pihak. Dalam konteks ini, maka disinilah kita melihat keberanian para bakal calon pemimpin di Aceh.
‘Berani dan sungguh tidak menjadikan Syar’iat Islam sebagai visi utama kepemimpinannya. Syar’iat Islam dalam membangun akhlak masyarakat dan pranata sosial masyarakat kita, syari’at Islam dalam politik kitaz dalam dunia pendidikan kita, ekonomi, penegakan hukum dengan Qanun Jinayah, termasuk dalam konteks sosial budaya kita,” kata Zulkhairi menjelaskan.
Oleh sebab itu, para bakal calon pemimpin Aceh mesti melihat Syari’at Islam ini sebagai jalan hidup dan sumber solusi atas apapun problematika kehidupan.
“Tidak perlu khawatir dianggap macam-macam karena visi Syari’at Islam ini. Yakinlah bahwa jika kita menolong agama Allah, maka Allah SWT akan menolong kita dan meneguhkan posisi kita,” pungkas Zulkhairi.[]Rilis





