Suasana di pelabuhan kecil Lampulo begitu sibuk, para buruh kapal melayani calon penumpang kapal yang akan menuju Pulo Aceh.
Beragam barang memenuhi KM Jasa Bunda seperti bahan bakar minyak, beras, puluhan kardus air mineral, bahan bangunan, sepeda motor, lembu, dan lain-lain.
Barang-barang ditata rapi di atas kapal, lalu penumpang ada di antara barang-barang tersebut. Hal ini dikarenakan transport Banda Aceh- Pulo Aceh masih sangat sederhana yang hanya mengandalkan bekas kapal nelayan pencari ikan.
“Peu kereta nyoe ta peu ek ateuh boat? (Apa sepeda motor ini mau dinaikkan ke atas kapal?),” tanya salah seorang buruh pelabuhan kecil Lampulo.
“Nyoe, neupeu ek aju ateuh boat blah noe (Iya, tolong naikkan atas kapal yang sebelah sini),” jawab saya pada buruh tersebut.
Ada dua kapal yang sedang bersandar menunggu calon penumpang yang akan menuju ke Pulo Aceh. Kapal pertama yang menuju ke Pulau Nasi, kapal ini sudah dipenuhi oleh penumpang dan barang-barang. Sedangkan kapal kedua yaitu kapal yang akan menuju ke Pulau Breueh. Kami memilih kapal yang akan menuju ke Pulau Breueh. Memang, Kemah Sastra Hamzah Fansuri (KSHF) telah dikonsepkan dan bertempat di Pulau Breueh.
Lalu gabungan Pulau Breuh dan Pulau Nasi inilah dinamakan Pulo Aceh, dijadikan nama kecamatan setempat, Kecamatan Pulau Aceh, Aceh Besar.
Siang hari tepat pukul 14.00 Wib sang nahkoda kapal mengumumkan kapal akan berangkat, semua penumpang harus menaiki KM Jasa Bunda yang akan menuju Pulau Breuh.
“Mandum penumpang kajeut ek ateuh boat (Semua penumpang silakan naik ke atas boat),” begitu perintah nahkoda KM Jasa Bunda.
Saya dan kawan-kawan ASHaF (Alumni Sekolah Hamzah Fansuri) menaiki kapal tersebut, lalu mengambil tempat duduk di sudut depan KM Jasa Bunda. Walaupun matahari sangat terik, namun tempat tersebut sengaja saya pilih agar leluasa melihat pemandangan laut.
Hari Sabtu, 20 Februari 2016 itu pertama kali saya dan beberapa kawan dari ASHaF menaiki transportasi laut yang sangat sederhana yaitu bekas kapal nelayan pencari ikan.
Kapal mulai berangkat keluar dari Kuala Aceh, Lampulo. Mulai dari bibir kuala sampai 200 meter menuju tengah laut, ketakutan mulai mendera saya. Sang nahkoda menuju barat, sedangkan angin meniup begitu kencang dari arah barat menuju timur. Artinya sang nahkoda melawan angin dan ombak yang ditiup angin dari arah barat. Akibat perlawanan yang tidak berimbang ini beberapa kali ombak besar menghantam badan KM Jasa Bunda dan air masuk dalam kapal. Dan badan kapal beberapa kali oleng ke kanan dan ke kiri karena terpaan ombak besar.
“Ek aju u wateuh lom, beu sok bak sagoe ateuh, ngat brat ujong (Silakan naik lebih tinggi ke sudut kapal, agar berat seimbang),” ujar Azhar yang juga salah satu penumpang KM Jasa Bunda.
Azhar sepertinya sudah biasa mengalami situasi seperti ini dan mengerti apa yang harus dilakukan ketika berada dalam situasi demikian. Bahkan Azhar pernah mengalami situasi yang lebih parah setiap melintasi Samudera Hindia ini ketika menuju Banda Aceh atau sebaliknya.
Azhar banyak membawa barang belanjaan dari Banda Aceh menuju Pulo Aceh. Selanjutnya barang-barang tersebut di jual secara eceran di kedainya di Gampong Gugop, Pulau Nasi, Pulo Aceh.
Melihat raut wajah saya yang begitu ketakutan, Azhar berusaha menenangkan. “Untuk menghilangkan rasa takutmu, lihatlah wajah sang nahkoda,” begitu ujar Azhar.
Tanpa berpikir panjang apa maksud Bang Azhar, saya pun melihat wajah sang nahkoda yang begitu tenang seolah tanpa menanggung beban apa-apa.
“Bang, sang nahkoda wajahnya begitu tenang, padahal ia sedang menanggung puluhan nyawa orang,” ujar saya kepada Bang Azhar.
Mendengar perkataan saya, Bang Azhar menyungging senyum, memaklumi perkataan saya yang baru pertama kali menggunakan transportasi laut.
“Dek, memang begitulah sikap seorang nahkoda, ia mewajibkan diri memunculkan wajah ketenangan kepada penumpang. Kalau ia menunjukkan wajah takut, maka penumpang akan menangis, kalau nahkoda menangis, maka penumpang akan pingsan,” celoteh Bang Azhar dengan nada lucu. Namun saya mengaminkan perkataannya itu, karena memang itu kebenarannya.
Setelah mendengar penjelasan Bang Azhar, saya memandangi wajah Nahkoda selekat-lekatnya. Kalau Nahkoda tersenyum, saya ikut tersenyum. Lalu ketakutan saya mereda hingga hilang begitu saja.
Kapal memasuki gerbang Pulo Aceh. Ini layak disebut gerbang karena di sebelah kanan dan sebelah kiri kapal diapit oleh dua pulau besar, yaitu Pulau Nasi di sebelah kiri dan Pulai Breueh di sebelah kanan.
Perjalanan yang menggoncang jiwa tadi terobati oleh pemandangan yang sangat indah di antara kedua pulau ini (Pulau Breueh dan Pulau Nasi). Bukit yang masih menghijau alami, air laut yang kebiruan dan pulau-pulau kecil di antara Pulau Breueh dan Pulau Nasi menambah keindahan Pulo Aceh ini.
“Ini Gampong Lamkuyang, Kecamatan Pulau Aceh,” tunjuk Syukri Isa Bluka Teubai ke arah satu gampong yang pertama kami lalui.
“Dan itu Gampong Gugop, kapal ini akan berlabuh di sana sebentar lagi,” lanjut Syukri yang merupakan ketua kegiatan Kemah Sastra Hamzah Fansuri kali ini.
“Lalu setelah singgah di Gugop dan menurunkan barang-barang warga di sana. Kapal akan berlabuh di Gampong Seurapong, di Seurapong kita akan turun dan berkemah di sana,” tambah Syukri.
Saya takjub dan terpana melihat keindahan Pulo Aceh yang masih asri dan alami. Melihat potensi alam ini, saya berharap ke depan Pulo Aceh akan menjadi destinasi wisata dunia, melebihi Pulau Weh dan Bali. Namun tentu harus menerapkan wisata bercorak Islami. Semoga…[]
Laporan: Rahmatullah Yusuf Gogo, Alumnus Sekolah Hamzah Fansuri. Feature ini ditulis dalam acara Kemah Sastra Hamzah Fansuri, 20-23 Februari 2016.







